loading...

SUARABMI.COM - Hati ini tersentak dan marah, tatkala membaca berita pemerkosaan yang diakhiri dengan pembunuhan. Seorang warga negara Indonesia terbunuh, mayatnya disumbat ke dalam sebuah almari di asrama teman lelakinya, seorang waraga negara Nepal. Kejadian ini berlaku di sebuah rumah di Paya Terubung, George Town Pulau Pinang kemarin( Astro Awani, 14/3).

Seminggu sebelumnya, kasus yang sama juga berlaku di Kajang Putra, Selangor. Dimana seorang warganegara Indonesia diperk0sa dan disekap selama 3 hari oleh teman lelakinya, yang secara kebetulan juga berwarga negara Nepal ( Berita Harian, 7/3).

Membaca kasus pemerkosaan yang menimpa warganegara Indonesia di Malaysia, trendnya sekarang sudah berubah. Apabila kasus-kasus sebelumnya, pelakunya adalah warga negara Pakistan, Bangladesh, pihak majikan, dan sesama orang Indonesia sendiri. Namun belakangan ini, keterlibatan warga negara Nepal telah muncul berulang kali, baik yang terungkap ke media maupun yang menjadi cerita under cover TKI di Malaysia.

Kasus-kasus seperti ini seringkali berlaku di sektor Perkilangan/ pabrik (Manufacturing), karena umumnya pekerja kilang di Malaysia adalah didominasi oleh wanita Indonesia dan pekerja asing dari Bangladesh, Nepal dan Myanmar. Interaksi sosial yang berlaku setiap hari diantara mereka telah menimbulkan bibit-bibit asmara, apabila tak terkontrol hanya akan menimbulkan kejadian yang tidak kita inginkan bersama.

Menurut sebuah penelitian, hampir 80% terjadinya kasus pelecehan s*ksual dan pemerkosaan itu justru dilakukan oleh orang yang telah dikenali. Misalnya Keluarga, saudara, pacar, tetangga, guru, atasan bahkan pemuka agama yang dihormati. Dan ada juga kasus yang terjadi karena teman yang baru dikenali baik yang dikenali secara tatap muka atau dikenali di media sosial seperti Facebook, twitter atau media chatting lainnya. Pergaulan sehari-hari dan lingkungan juga mempengaruhinya, bagaimana kita berinteraksi dan dengan siapa kita menghabiskan waktu serta berinteraksi sosial setiap harinya.
[ads-post]
Sudah seringkali, diingatkan kepada saudari-saudari kami di Malaysia, agar senantiasa berhati-hati dan menjaga jarak apabila berhubungan dengan sesama pekerja asing di Malaysia. Karena kesan dan dampak terbesarnya, hanya akan dirasakan oleh pihak wanita itu sendiri. Bahkan ada yang lebih ekstrim dilakukan dalam mengingatkan mereka, yaitu memperingatkan langsung di depan mereka berdua ketika berpacaran di luar. Sehingga sampai ada yang dipukuli pihak lelakinya, apabila ada perlawanan dari mereka.

Memang cinta itu adalah buta, cinta tidak mengenal jarak, tidak mengenal bangsa dan tidak mengenal agama. Namun jangan lupa, kita tidak hidup sendirian dan masih ada keluarga serta sahabat di sekitar kita. Janganlah hanya mementingkan cinta sesaat, namun kesannya berpanjangan terhadap diri kita dan orang-orang di sekeliling kita.

Andaikata terjadi keterlanjuran dalam berhubungan dan mempunyai anak, bagaimana nasib dan masa depan anak tersebut ? sedangkan jarak antara Indonesia dengan negara teman asing tersebut sangat jauh sekali, dan membutuhkan biaya yang sangat mahal. Yang pastinya secara ekonomi juga tidak jauh berbeda, karena sesama perantau dan pekerja asing di Malaysia.

Sudah banyak kasus yang sama dari dulu, yang bisa dijadikan sandaran dan bahan interopeksi diri bersama. Banyak saudari-saudari saya di Malaysia hanya sekedar dijadikan Panadol , dijadikan obat sakit kepala saja oleh mereka. Kita harus berubah, mulai dari cara berfikir dan cara berinteraksi dalam bergaul dengan mereka.

Yakinlah!! Mereka hanya sekedar memanfaatkan kalian saja selama di Malaysia. Berkacalah pada kasus-kasus yang sama, yang telah berlaku selama ini baik yang terjadi di Malaysia, Singapura, maupun di Timur Tengah. Mereka hanya memanfaatkan kalian semua selama di perantauan, tidak ada cinta sejati bagi mereka, melainkan hanya pelampiasan nafsu semata.

Ayo berubahlah dan senantiasa salaing ingat-mengingatkan sesama satu bangsa dan negara di perantauan. Karena nasib tidak baik yang menimpa kalian, juga kami rasakan bersama disini.

Penulis: Mahfud Tejani

Berhati - Hatilah Wahai TKW, Jangan jadi PANADOL di Malaysia

Powered by Blogger.
close