loading...
============

SUARABMI.COM - Menjadi TKI kaburan di Taiwan khususnya adalah sebuah permasalahan yang pelik yang terkadang itu bukan suatu pilihan namun suatu paksaan baik dari kondisi ataupun rayuan teman yang dianggap sahabat.

Tak sedikit mereka yang menjadi kaburan sukses karena fokus bekerja namun juga tak sedikit mereka yang gagal dan bahkan terlibat kejahatan karena berbagai alasan.

Mungkin sedikit di antara kita yang tahu bahwa jumlah TKI di Taiwan, dibanding TKA (Tenaga Kerja Asing) dari negara lain, paling tinggi.

Karena dari segi jumlah paling besar, maka masalah yang ditimbulkannyapun secara kuantitas juga paling banyak dibanding yang lain.

Sebut saja, TKI yang karena berbagai sebab, di antaranya pelecehan s*ksual, eksploitasi waktu kerja, dan gaji tak layak akibat berbagai potongan, lari dari majikan resmi mereka.

Mereka yang bekerja secara ilegal karena lari dari majikan resmi ini, biasanya disebut kaburan di antara komunitas TKI di Taiwan.

Majikan dan Agen Ilegal serta Perdagangan Manusia
Mereka yang lari dari majikan resmi, ujungnya akan jatuh ke tangan agen ilegal. Agen ilegal ini bisa agen resmi maupun perorangan yang menjadi makelar kerja bagi kaburan. 

Mereka kemudian harus membayar sejumlah uang muka sebelum mereka mulai bekerja sebagai komisi pekerjaan yang diperoleh dari agen ilegal ini. 

Biasanya berkisar NT$ 3000-6000an. Sistem lainnya, gaji beberapa bulan pertama mereka, bahkan selama mereka bekerja, akan dipotong oleh agen ilegal. 

Jumlahnya sewenang si agen. Hal ini sangat mungkin, karena pada kebanyakan kasus, gaji diserahkan oleh majikan ilegal kepada agen ilegal baru kemudian diserahkan kepada kaburan.

Mereka yang kabur, bila kemudian mendapat majikan yang lebih baik dari majikan resmi adalah kelompok yang sangat beruntung.

Kelompok kedua adalah mereka yang kurang beruntung karena memperoleh majikan yang lebih kasar dan memperlakukan mereka kurang  manusiawi dengan pekerjaan yang lebih berat. Tak jarang mereka disiksa secara fisik, ditendang, dipukul, disekap bahkan tidak diberi makan. Bila ada kesempatan, mereka akan kabur dan kabur lagi. Begitu seterusnya, hingga mendapat majikan yang punya belas kasihan dan pekerjaan yang baik. 

Kemudian kelompok yang terakhir, ini yang paling naas bagi para TKI perempuan. Mereka yang tertangkap germo untuk dijadikan pelacur. Mereka disekap di dalam rumah biasa atau berbagai tempat terselubung kemudian diperjualbelikan dengan para hidung belang.

Persaingan dan Masalah Kesehatan
Mengerikan memang, tapi itu kenyataan, seperti film Victoria Park tentang TKI di Hong Kong besutan Lola Amaria. Rekan-rekan TKI di Taiwan yang kabur benar-benar menghadapi berbagai masalah itu.
[ads-post]
Selain masalah dengan majikan dan agen ilegal,  mereka juga menghadapi kerasnya hidup dengan sesama TKA dari berbagai negara lain.

Tak jarang yang saling bersahabat dan menjadi rekan kerja yang baik. Tapi tak sedikit juga yang akhirnya menjadi musuh. Alasannya mulai dari hal-hal sepele seperti persaingan prestasi kerja di hadapan majikan hingga masalah pribadi lainnya. 

Kadang-kadang konflik bisa berlanjut dengan adu fisik. Selain itu, kaburan kebanyakan tidak memegang NHI (kartu asuransi kesehatan nasional Taiwan), sehingga bila mereka sakit saat bekerja pada majikan ilegal, mereka akan kesulitan berobat ke rumah sakit resmi.

Bila mereka takut ketahuan bekerja ilegal oleh polisi yang sekarang ini mulai gencar berpatroli di rumah sakit-rumah sakit, mereka akan urung dan terpaksa merawat sendiri sakit mereka di rumah majikan. 

Kaburan Menyerahkan Diri
Mereka yang kabur ini, bila tidak tertangkap polisi, bisa bertahan mulai empat bulan hingga bertahun-tahun bekerja ilegal di Taiwan. Biasanya mereka akan menyerahkan diri ke kantor imigrasi Taiwan bila ingin pulang ke tanah air. Motivasi umumnya lelah dan ingin bertemu dengan keluarga.

Setelah melapor, mereka akan ditampung di rumah-rumah perlindungan selama proses pembuatan Surat Perjalanan Laksana Pasport (SPLP) untuk kembali ke kampung halaman. 

Prosesnya memakan waktu berkisar satu minggu hingga empat puluh hari. Mereka juga harus membayar denda kepada pemerintah Taiwan sebesar NT$ 10.000 serta membayar tiket pulang mereka sendiri. 

Saat tinggal di rumah perlindungan, mereka harus membiayai kebutuhan hidup mereka sendiri juga, seperti makan dan kebutuhan sehari-hari. Setelah SPLP jadi, mereka akan dibantu memesan tiket dan diantar ke bandara untuk pulang. 

Di dalam rumah-rumah perlindungan ini, mereka diperlakukan secara baik oleh para petugas dari pemerintah Taiwan maupun pemerintah Indonesia. Tidak ada perlakuan kasar, tidak ada bentakan atau pelecehan. 

Sehari-hari mereka bebas bercengkrama dan melakukan berbagai kegiatan bermanfaat bagi mereka. Seluruh kaburan yang menunggu untuk pulang boleh merasa terlindungi di sana. Kadangkala, mereka justru mendapat kebebasan untuk keluar (belanja dan bertemu teman, bukan untuk bekerja) selama masa tigapuluh hari penantian. 

Tapi, lebih dari itu, mereka harus tinggal dan tidak boleh keluar hingga memperoleh SPLP. Bila SPLP sudah diperoleh, paspor lama mereka yang semula ditahan oleh majikan atau agen akan dikembalikan untuk melamar paspor di Indonesia. Itu bila mereka masih ingin bekerja lagi di luar negeri.

Kaburan Tertangkap
Hal yang terjadi bila polisi menangkap kaburan adalah membawanya ke pusat penahanan imigran gelap. 

Meski kurang tepat, namun tempat ini sering disebut sebagai ‘penjara’ di dalam komunitas TKI. Mereka akan diperlakukan seperti penjahat, tangan mereka diborgol dan kebebasannya terbatas. 

Meski diperlakukan sama baik seperti mereka yang menyerahkan diri, kaburan yang tertangkap ini tidak diperbolehkan keluar dan dikenai denda yang jauh lebih besar. 

Kemudian proses yang harus ditempuh pun sama dengan yang menyerahkan diri. Bedanya, mereka akan menunggu proses deportasi. 

Bagi mereka yang memiliki rekam jejak kabur demikian dapat kembali masuk dan bekerja ke Taiwan setelah 3-4 tahun sejak mereka pulang ke Indonesia, namun faktanya banyak yang tidak bisa kembali ke Taiwan. 

Biasanya mereka akan memantapkan hati untuk pulang, membangun keluarga dan usaha dengan modal yang berhasil terkumpul atau mengalihkan harapan mereka untuk bekerja di negara-negara lain yang membuka peluang bagi buruh migran Indonesia.

Menjadi TKI kaburan di Taiwan khususnya adalah sebuah permasalahan yang pelik yang terkadang itu bukan suatu pilihan namun suatu paksaan baik dari kondisi ataupun rayuan teman yang dianggap sahabat.

Powered by Blogger.
close