loading...
============

SUARABMI.COM - Sebut saja namaku Yulia.  Panggilan manis, yang aku sukai. Umurku  21 dan bungsu dari  dari tiga bersaudara. Kami hidup  dengan status ekonomi “pas-pasan”. Karena  status demikian, meski aku bungsu aku tak pernah dimanja dan berani berfikir muluk. Jangan heran, saat lulus SMP aku  hanya bercita –cita  masuk SMA dan begitu lulus dapat bekerja di pabrik. Dengan demikian aku bisa membantu orang tuaku sekaligus mengabiskan masa muda dengan teman –teman sekampung .  

Namun cita –cita sederhana itu hanyalah berhenti jadi cita –cita. Ini lantaran ayah dan ibuku  tak  mengijinkan aku  melanjutkan  sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.  Sebaliknya,  mereka justru  menekan agar  aku jadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) di Arab Saudi  seperti   kedua kakak perempuanku . 

Keinginan  ayah  tak bisa dibantah. Ia memang keras kepala. Maka  ketika  Omku yang kebetulan menjadi guru SMA  berniat menyekolahkan  dan menanggung semua biayanya, ia tetap  tidak memberi ijin. 

Bahkan ia mengancam, kalau aku nekad  menerima ajakan Om, ia akan mengusirku. “Bukan hanya mengusir, aku juga  tidak mau mengakui kamu sebagai anak. Ini untuk pelajaran bagi anak yang durhaka sama orang tua,” katanya tegas. 

Apa boleh buat, aku tunduk dengan larangan ayah. Aku takut dicap sebagai anak durhaka.  Maka  dengan berat hati aku  mendaftar di PJTKI. Setelah melalui seleksi administrasi akupun  berangkat ke Saudi. Sedih rasanya berangkat menjadi TKI. Bepisah dengan ibu  dan bekerja keras agar majikan  tersenyum. Aku sesenggukan saat pesawat take off menuju Saudi. Rasanya, jiwa ini seperti  terpisah dengan raga. Melayang  dan melayang. 

Namun aku tak boleh cengeng terus menerus. Hidup harus dijalani. Barangkali ini memang takdir Allah yang tak terelak. Aku harus mampu mampu mengatasi semuanya. Dan pulang kembali dengan selamat serta tak mau pergi lagi menjadi TKI, berapapun banyaknya bayaran yang ditawarkan. 

Kontrak  sebagai PRT  selama dua tahun  berhasil aku selesaikan tanpa ada kendala. Alhamdulilah, aku bias pulang. Senang rasanya melihat kedua orang tuaku wajahnya berbinar bahagia. Kupeluk mereka berdua. Tak terasa akupun hanyut dalam keharuan. 

Aku di rumah hanya tiga tiga bulan. Hasil kerja selama dua tahun  yang kutabung sebagian kubelikan tanah. Dan sebagian lain untuk    memperbaiki rumah orang tuaku yang memprihatinkan. Aku bangga, meski hanya seorang PRT tapi bisa berbahkti kepada kedua orang tua. Membelikan tanah dan  memperbaiki rumah.    

Biasa bekerja, setelah tiga bulan di rumah  aku mulai gelisah. Aku ingin bekerja kembali. Tanpa banyak kesulitan, aku mendaftar lagi di  PJTKI i dan diberangkatkan  ke Taiwan. Seperti di Saudi, di Taiwan pun aku jadi PRT. 

Di Taiwan  nasibku tidak sebaik  di Saudi. Aku sering kelelahan bekerja karena terlalu banyak bekerja.   Majikanku yang judes dan galak itu   mempunyai dua rumah besar yang indah dan cukup mewah. Nah rumah itu harus aku bersihkan sendirian setiap hari. Kadang malah, rumah orang tua majikanku juga aku yang membersihkan. 

Tugas rutinku tak hanya itu. Aku masih dibebani beberapa pekerjaan, termasuk mengepak barang –barang pabrik yang mau dikirim oleh relasi majikanku. Alhasil aku  baru bias tidur jam  dua dini. Dan itu berlangusng  sejak aku tiba di Taiwan.  

Dengan pekerjaan yang berat seperti itu, aku  tidak kuat untuk meneruskan kontrak kerja selama Sembilan bulan. Aku  hanya bisa bertahan selama sembilan bulan dan  aku mengajukan break kontrak, pulang ke Indonesia. 

Melihat aku pulang  ayah  marah besar. Katanya ia  malu sama tetangga punya  anak yang gagal bekerja di rantau orang. Sebodoh amat….aku tak  menanggapi kekecewaan ayah. Yang penting aku bisa  menyelamatkan diri dari pekerjaan yang berat itu. Mungkin kalau aku teruskan, bisa  jadi  aku  kelak akan berpenyakitan gagal ginjal. Ini karena bekerja berat sepanjang waktu. 

Sebelum di rumah,  kembali aku  mendaftar  kerja di Hong Kong. Beda saat aku berangkat ke Taiwan dan Arab. Berangkat ke Hong Kong ternyata banyak sekali persyaratan. Walhasil, setelah mendaftar  aku baru bisa  berangkat enam bulan kemudian. 

Hingga hari ini aku belum lupa. 9 Maret 2012 kakiku menginjak di Hong Kong. Aku mendapat majikan yang baru pertama kali mengambil pembantu. Rumah majikanku berada di Shatin, dengan anggota keluarga yang masih muda  sebaya kakakku. 

Tuan usianya  sekitar  36  dan istrinya 34. Mereka memiliki dua balita. , Sulungnya  berusia dua tahun sembilan bulan, sementara adiknya  delapan bulan. 

Pertama datang,  majikanku ramah dan  baik.  Dengan sabar mengajari aku cara  bekerja dengan benar. Misalnya, saat mencuci piring bayi yang ditaruh di vacum agar steril. Mungkin lantaran aku sudah bisa  dipercaya, setelah aku bekerja satu bulan  majikan perempuan  mulai bekerja lagi, otomatis aku sendirilah yang harus menghandle kedua anaknya. Memang, kadang majikan laki-laki suka membantu  menangani anak sulungnya. Maklum ia banyak bekerja di rumah, entah apa yang dikerjakan. 

Ketika nyonya bekerja,   akupun  di rumah hanya  dengan tuan dan kedua bayinya. Dari sinilah majikanku  mulai menunjukkan perhatian. Bahkan ia memberi hadiah handphone segala. Semenjak aku diberinya handphone, bila ada SMS  masuk tuan selalu ingin tahu siapa yang mengirim SMS tersebut. Dia pernah pula  bertanya,  apakah  aku sudah punya pacar. 

Rupanya, diam – diam majikan lelaki  sangat usil dan seperti orang “kegatelen”.  Ia mulai berlaku kurang ajak. Ia suka memegang pantat. Kadang dari belakang mengelus punggungku. Tentu saja saja aku protes, tapi ia cuek saja. 
[ads-post]
Makin hari  kekurangajaranya makin gila. Dia  suka merayu  dengan iming –iming macam -macam. Dia pernah merayu ingin meniduriku. Aku pun menolak dengan keras. Dia selalu  mencari celah untuk bisa mendekati untuk  meraba payudara atau bagian tubuh yang lain. 

Hari itu, 1 Agustus. Tuan mulai bekerja di luar. Ia  berangkat jam tujuh pagi dan pulang jam tujuh malam. Sementara nyonya kerja dari jam sepuluh pagi sampai jam sepuluh malam. Karena kedua majikan bekerja  rumah  dipasang kamera agar mereka dapat mengontrol kegiatanku. 

Tiga hari kemudian,  ketika  kedua momonganku sedang tidur  akupun mencuci botol susu. Tiba –tiba, entah darimana  datangnya, majikan laki-laki  masuk ke dapur dan langsung memelukku dari belakang. Ia juga  memegangi kedua tanganku dengan kuatnya. Aku tak bisa bergerak sama sekali, cengkeramannya sangat kuat. Dari belakang  Tuanku  terus menciumiku. Tidak itu saja, ia juga menggerayangi wilayah sensitive di bawah pusar.

Aku sontak  teriak dan menangis. Aku berontak  dengan kuat. Aku dorong  majikanku dan akupun terlepas dari  cengkeramannya. Dengan marah kuraih pisau.  Aku mengancam, kalau  majikanku  masih terus mau memperkosa, aku akan bunuh diri . 

Anehnya, ia  dengan santai bilang,  kalau dia ngejeng (ambil) aku bukan hanya untuk menjaga anaknya, tapi juga melayaninya. Aku benar –benar  jijik dan marah melihat  majikanku.

Sore itu ketika aku selesai memandikan bayi, lantas bayinya aku beri minum susu dan tertidur, gantian aku memandikan anak asuhku yang besar. Sudah menjadi kebiasaan kalau yang besar mandi begitu selesai badannya disabuni membiarkan sebentar dia bermain air. Dan aku otomatis tetap didekatnya sambil menjaga kalau dia ada apa-apa. Melihat aku sedang duduk tuan menyuruhku mengambil kue di dapur.  Ketika aku sedang mencari barang yang diminta tuan tanpa  diduga,  majikanku ikut masuk ke dapur dan langsung menutup pintu. 

Tuan mendekatiku sambil mengeluarkan kemaluannya dan menyuruh aku memegangi. Aku gemetaran dan takut kalau kejadian tadi malam terulang lagi. 

"Amui, tolong bantu aku ya ! " kata majikanku. Ia dengan cepat menarik tanganku dan mencengkeramnya kuat-kuat sampai aku tidak bisa bergerak. Dengan nafsunya ia  menciumiku dan meraba bagian di bawah pusar. 

Kejadian itu  membuat aku histeris,  teriak-teriak bahkan menjerit seperti orang  kesurupan. Melihat aku menangis tuan malah cengengesan dan bilang.

"Awas, kalau kamu berani bilang sama nyonya,” katanya. Aku pun  masuk ke kamar mandi, sambil nangis aku telpon agen. Tapi lagi-lagi jawaban dari agen hanya menyuruh aku untuk bersabar dan tenang, padahal sudah dua kali tuan melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan seorang majikan ke pembantunya. 

Sudah beberapa kali aku bilang pada  agen. Agen selalu bilang agar aku sabar dan  tenang. Aku sampai mengancam,  kalau  agen tidak menolong, aku akan kabur. Aku benar-benar sudah tidak kuat lagi, setiap hari aku hanya bisa menangis, mau curhat aku tidak punya teman, sementara kalau aku kabur aku harus kemana. 
              
Suatu sore, selagi aku di kamar tiba –tiba Tuan  berdiri di depan pintu. Aku  usir dia keluar dari kamar, tapi dia tetap saja berdiri di depan pintu. Akupun   cuek l pura-pura SMS an. Perasaan takut dan deg-degan kalau-kalau Tuan bertindak tidak senonoh lagi seperti kejadian kemarin.

Dan benar saja, tuan mendekatiku. Aku bergeser pindah tempat dan rasanya ingin lari, tapi dengan reflek tuan menarik tanganku kuat-kuat hingga aku terjatuh ke tempat tidur. Tuan menindihku sambil memegangi kedua tanganku. Dan dengan penuh nafsu  berusaha menciumiku. Sekuat tenaga aku berusaha melawan, tapi saking kuatnya tuan mencengkeram kedua tanganku serta menindihku aku tidak bisa bergerak sedikitpun. 

Aku menangis, menjerit sekuatnya tapi Tuan semakin bernafsunya. Dia bahkan menciumi payudaraku dan berusaha melepas celanaku. Aku melawan sebisanya. Kuraih hanger  tapi lepas. Tuanku berhasil menekanku. Perlawananku gagal. Majikanku tiba berdiri melepas tekanannya.  

Aku menangis, menjerit sekuatnya. Hilang sudah kegadisanku direnggut majikanku. Waktu aku menjerit anaknya yang besar bangun dan mencari papanya di kamarku.  Dengan terburu-buru tuan memakai celananya kembali dan langsung keluar sambil menggendongnya. Saat itu juga sambil nangis aku telpon agen.  Agen malah membentakku  " Ada apa lagi, kamu sehari berapa kali telpan-telpon terus ". 

Aku bilang ke agen kalau tuan sudah memperkosaku. Aku mau keluar rumah. Kini agen menyadari sesuatu telah terjadi.  Ia pun menghubungi polisi dan aku diminta bersabar, sebentar lagi polisi akan datang.

Dengan sesenggukan aku  memberi minum  susu pada anak. Majikanku masuk kamar mandi dan mengunci pintu.  Secepat kilat, aku lari membuka pintu rumah. Tepat saat aku keluar, polisi datang. Aku malah sempat bertabrakan dengan polisi itu yang sedang di depan pintu. Mendengar aku lari, Tuanku keluar dari kamar mandi mengejarku. Dan dia berhenti ketika polisi dengan cepat menyambar tangannya dan memborgolnya.   

Ketika nyonya pulang dan mendapati rumahnya banyak polisi dia kaget. Polisi lantas menjelaskan  kronologinya.  Sambil menggendong anaknya,  Nyonya majikanku  menatapku sinis.  "Dasar kamu pembantu sialan” katanya. 

Aku berada di kantor polisi semalam. Lebih dari sepuluh kali aku di intrograsi polisi, dari A sampai Z. Dan aku bisa sedikit lega. Hasil  visum et repretum,  selaput daraku juga masih utuh. Dokter memberi dua pil yang harus aku minum dua belas jam sekali,  untuk menghindari supaya aku tidak hamil. Dan aku berdoa, semoga Majikanku dihukum dengan setimpal. Ya Allah, lindungilah aku dari kebejatan itu..!

*Story ini adalah kiriman dari user kumparan

Aku Menangis, Menjerit Sekuatnya, Hilang Sudah Kegadisanku Direnggut Majikanku di Hongkong

Powered by Blogger.
close