loading...
============

SUARABMI.COMSering kita dengar hilang atau rusaknya barang bawaan (bagasi) saat bepergian dengan angkutan udara atau pulang dari mengais rejeki di negeri orang. 

Bila bagasi hilang, biasanya pihak maskapai mengupayakan mencarinya. Dalam beberapa kasus barang bawaan itu ditemukan dan dikembalikan.

Bagaimana jika bagasi rusak? Siapakah yang bisa dituntut atas kerugian ini?
Menurut Pasal 1 angka 24 dan 25 UU No 1 tahun 2009 tentang Penerbangan (UU Penerbangan), ada dua macam bagasi, yaitu:

Bagasi tercatat
Barang penumpang yang diserahkan oleh penumpang kepada pengangkut untuk diangkut dengan pesawat udara yang sama.
[ads-post]
Bagasi kabin
Barang yang dibawa oleh penumpang dan berada dalam pengawasan penumpang sendiri.

Pasal 5 ayat 1 Peraturan Menteri Perhubungan No. 77 tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara (Permenhub 77/2011) mengatur jumlah ganti kerugian terhadap penumpang yang mengalami kehilangan, musnah atau rusaknya bagasi tercatat.

Kehilangan bagasi tercatat atau isi bagasi tercatat atau bagasi tercatat musnah diberikan ganti kerugian sebesar Rp 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah) per kg dan paling banyak Rp 4.000.000,00 (empat juta rupiah) per penumpang; dan Kerusakan bagasi tercatat, diberikan ganti kerugian sesuai jenisnya, bentuk, ukuran dan merk bagasi tercatat.

Merujuk Pasal 5 ayat (2) Permenhub 77/2011, bagasi disebut hilang apabila tidak diketemukan dalam waktu 14 (empat belas) hari kalender sejak tanggal dan jam kedatangan penumpang di bandar udara tujuan. Sedangkan, bagi penumpang dengan bagasi tercatat yang belum ditemukan namun belum dapat dinyatakan hilang karena belum melewati masa 14 (empat belas) hari, maka pengangkut wajib memberikan uang tunggu sebesar Rp 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah) per hari paling lama untuk 3 (tiga) hari kalender (Pasal 5 ayat 3 Permenhub 77/2011).

Untuk bagasi kabin, dalam Pasal 143 UU Penerbangan, ditegaskan bahwa pengangkut tidak bertanggung jawab untuk kerugian karena hilang atau rusaknya bagasi kabin, kecuali apabila penumpang dapat membuktikan bahwa kerugian tersebut disebabkan oleh tindakan pengangkut atau orang yang dipekerjakannya.

Berapa besar ganti kerugian untuk bagasi kabin? Pasal 167 UU Penerbangan menetapkan setinggi-tingginya sebesar kerugian nyata penumpang.

Untuk bagasi tercatat, berdasarkan Pasal 144 UU Penerbangan, pengangkut bertanggung jawab atas kerugian yang diderita penumpang karena bagasi tercatat hilang, musnah atau rusak yang diakibatkan oleh kegiatan angkutan udara selama bagasi tercatat berada dalam pengawasan pengangkut. Yang dimaksud dengan "dalam pengawasan pengangkut" adalah sejak barang diterima pengangkut pada saat pelaporan (check-in) sampai dengan barang tersebut diambil oleh penumpang di bandar udara tujuan.

Kalau tidak puas atas penyelesaian masalah kerusakan atau kehilangan bagasi, kamu bisa mengajukan gugatan terhadap maskapai ke pengadilan negeri di wilayah Indonesia. Hal ini diatur dalam Pasal 176 UU Penerbangan. | dilarangbego

Jika Bagasi Rusak Atau Hilang di Pesawat Saat Mudik Dari Luar Negeri, Kamu Bisa Menuntut Ganti Rugi

Powered by Blogger.
close