loading...
============

SUARABMI.COM - Gelembung minyak panas keluar dari sela-sela tumpukan ladrang yang sedang digoreng di atas wajan. Di samping kompor ada adonan ladrang yang telah menjadi stik-stik kecil, ditata rapi membujur dalam nampan, siap digoreng.

Sedangkan ladrang yang telah masak ditiriskan dalam baskom yang dilapisi koran agar menyesap sisa minyaknya.

Ani Sugiyarti (29 tahun) mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Taiwan yang kembali ke tanah air
tahun 2013 lalu, duduk di depan kompor. Tangannya sibuk membolak-balikkan ladrang di dalam wajan agar matang merata. Kadang dia mengintip ke bawah wajan dan menyesuaikan besar-kecilnya nyala api.

Meski Ramadan belum berjalan setengah, dia sudah sibuk menyiapkan berbagai kue lebaran. Pasalnya kue-kue itu akan dikirimkan ke tempat-tempat yang jauh pada pertengahan Ramadan.

Kenalan-kenalan sesama buruh migran yang memesan kue-kue itu dari luar negeri. Mereka meminta agar kue dikirimkan ke keluarga masing-masing di tanah air sebagai hadiah lebaran.

Jualan kue di bulan puasa seperti itu telah dilakoni Ani bersama suaminya, Krishna Adi yang juga telah berangkat menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) 2 kali di Taiwan.

Bermodal uang Rp 200.000, kemampuan bikin kue, dan kenalan sesama TKI, Krishna dan Ani memulai usahanya 3 tahun lalu. Usahanya berkembang hingga mampu merekrut 3 orang tetangga untuk bisnis musiman itu.
[ads-post]
"Kalau yang jauh-jauh kita kirimkan 2 minggu sebelum hari Raya Idul Fitri. Kalau yang di Banyuwangi seminggu sebelum hari raya kita antar tanpa ongkos kirim," kata Ani di Perumahan Taman Alam Surya, blok C, No 11-12, Dusun Jatisari, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (29/5).

Selain ladrang, mereka membuat pastel kering, kerupuk pangsit, keciput, aneka olahan kacang dan berbagai kue yang cara memasaknya digoreng. Rata-rata harganya Rp 60 ribu per kilogram, dalam kemasan 1/2 kilogram per bungkus plastik.

Ani mengatakan dia berusaha menjalani berbagai bisnis karena merasa bosan bila tidak bekerja. Maka itu setelah pulang dari bekerja di luar negeri, dia tetap menyibukkan diri dengan jualan online dan bisnis-bisnis lain.

"Saya sekarang jadi ibu rumah tangga, sambil jualan online. Bosan kalau tidak ada aktifitas, saya tetap ingin produktif,"kata dia.

Krishna sendiri merupakan Ketua Keluarga Migran Indonesia (Kami) Banyuwangi, gerakan sosial pemberdayaan TKI purna dan keluarga. Selain Ani, ada 2 orang anggota Kami yang menjalani bisnis musiman kue lebaran ini.

Unit produksi seorang anggota di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring khusus membuat kue kering yang dimasak dengan cara panggang. Sedangkan yang di Desa Kedung Asri, Kecamatan Tegaldlimo lebih banyak membuat sale pisang. Pemesanan dan transaksi langsung dilakukan pembeli pada produsen kue, tidak melalui skretariat Kami.

Krishna mengatakan tahun lalu, total produksi 3 tempat usaha itu menghasilkan hampir 1 ton kue. Namun tahun ini mengalami penurunan menjadi hanya 3 kwintal.

"Tahun ini banyak TKI yang pulang kampung. Jadi mereka tidak pesan kue lebaran kepada kami. Namanya juga jualan, kadang ramai, kadang sepi,"kata Krishna.

Dia mengatakan minat TKI di Banyuwangi untuk membangun usaha setelah pulang dari luar negeri masih kecil. Banyak alasan yang mereka utarakan, seperti takut rugi, tidak diizinkan suami, atau mereka memutuskan berangkat lagi bekerja ke luar negeri.

"Anggota kami di Banyuwangi ada 200 orang. Sekitar 25 persen sudah punya usaha sendiri, usaha salon, furniture, buka toko dan lain-lain,"katanya.

Jualan Kue Lebaran, Kelompok TKI Banyuwangi Ini Beromset Ratusan Juta, Berikut Tipsnya

Powered by Blogger.
close