loading...

SUARABMI.COM - Mata ini masih basah, ketika pesawat yang membawaku terbang dari Hong Kong telah landing di Bandara Juanda, Surabaya.

12 amplop surat yang baru kuterima tadi pagi, membuat dada ini terasa sesak. Ternyata selama 12 bulan, Rio telah mengirim sepucuk surat yang tak pernah sampai ke tanganku. Mrs. Chan, majikanku, baru memberikannya tadi pagi bersama paspor dan tiket kepulangan. 

Mrs. Chan minta maaf karena telah menahan surat itu tiap bulannya, dengan alasan agar pekerjaanku tak terganggu.

Sejak kejadian malam itu, Nyonya langsung mengganti nomor handphone milikku agar tidak bisa dihubungi oleh Rio. Aku mengerti maksud Nyonya itu demi kebaikan.

Rio adalah nama tomboy dari Ria, perempuan cantik bertubuh semampai dan berhidung mancung seperti artis film Lidya Kandow. Kulitnya bersih dan jemarinya lentik yang kata orang jawa mucuk ri (seperti pucuk duri). Namun tak pernah disangka, Ria bisa berubah menjadi Rio. 

Inilah Hong Kong, di mana tak ada larangan atau peraturan yang menolak seorang pekerja asing berpenampilan tomboy. Buktinya, aku sering menjumpai beberapa anak berpakaian tomboy. 

Bagiku itu sudah menjadi keputusan mereka memilih penampilannya. Toh, mereka masih diterima oleh majikannya dengan keadaan tersebut. Yang penting pekerjaan beres dan dilakukan dengan kejujuran.

Aku tak pernah memandang, siapapun dalam bergaul. Asalkan mereka itu berperilaku baik. Sebab di mana aku bergaul, di situlah aku akan terbentuk.

Awalnya aku tidak percaya dengan apa yang telah terjadi minggu yang naas itu. Tiba-tiba handphone milikku berbunyi pada pukul 11 malam. Ketika kuangkat, terdengar suara Rio yang meminta untuk menemuinya di lobby apartemenku. 

"Ra! aku menunggumu di lobby apartemen, turunlah!" Tentu saja aku terkejut, hari sudah gelap, sementara Rio belum pulang ke rumah majikannya.

Aku segera minta izin majikan untuk keluar menemui Rio, dengan alasan bahwa sahabatku itu tidak berani pulang ke rumah majikannya. Untung saja majikanku baik, sehingga ia memberi izin.

"Jangan lupa membawa kunci rumah!" pesan Nyonya kepadaku. 

"Iya, Nyonya tidur saja dulu, nanti kalau ada sesuatu akan saya telepon."

Angin dingin menerpa lembut ke wajahku, ketika pintu lift apartemen terbuka. Kulihat Rio sudah menungguku di pojok lobby. 

Wajahnya kusam, matanya merah seperti habis menangis. Rambut cepaknya yang berwarna kuning keemasan tak lagi berdiri tegak seperti bulu landak. Ia tampak gusar. 

"Ra! (Rio biasa memanggilku Ra saja) Maafkan aku mengganggu waktu istirahatmu," Rio tak berani menatapku. Perasaan ini heran bercampur was-was melihat keadaannya.

"Ada apa Rio, kenapa sudah malam belum pulang, Apa majikanmu tahu?" Ia hanya menggeleng. Lalu apa kamu di Interminit? 

Ceritakanlah! Aku mendesak dan tak sabar ingin mendengar alasannya. Namun Rio menangis, sambil menunjukkan bercak darah di jaket Adidas putih yang ia kenakan.

"Astaghfirullah! Kamu kenapa? apa yang terjadi padamu, Rio?" Aku gemetar memerhatikan darah yang sudah mengering itu. 

"Ra, jangan di sini, kita duduk di taman saja biar aku bebas bercerita. Kuturuti permintaannya, walau rembulan telah melangit dan angin malam berhembus menyusup ke dalam pori-poriku, kaki ini berjalan cepat menuju taman yang tak jauh dari Lok Hin Terrace, building tempat aku bekerja.

"Ra, aku tadi habis mencekik Lisa," sebuah nama yang tak asing kudengar. Lisa adalah temanku sewaktu masih di PJTKI. Rasa tak percaya semakin membuatku gemetar. Rio menangis, memelukku yang berdiri mematung mendengar penuturannya. 
[ads-post]
Rupanya telah terjadi salah paham di antara mereka. Rio menaruh cemburu pada Lisa karena sejak kedatangan Lisa ke Hong Kong, sikap Melly terhadap Rio jadi berubah. 

"Astaghfirullah, nyebut Rio!” 

“Aku menyesal Ra!”

"Setelah aku mencekiknya lalu menamparnya. Kemudian ia berusaha berteriak. Aku kalap lalu membenturkan kepalanya ke bangku kosong di taman itu. Lalu aku lari meninggalkan Lisa yang langsung jatuh limbung di taman Mei Foo.

Aku ketakutan Ra. Tanganku gemetar tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Kepala Lisa berdarah. Lalu aku berinisiatif mencarimu, karena aku yakin bisa mencarikan jalan keluar masalah ini. Namun, sejak pukul 7 malam handphone milikmu tidak aktif.”

Aku memang mematikan ponsel bila sedang keluar bersama majikan. Hari itu aku tidak libur lantaran diajak makan malam sama Bos. 

"Ra, jangan serahkan aku ke polisi sekarang ya?" Rio memohon agar aku tak menelepon polisi. Aku bingung tak tahu harus bagaimana. Antara kasihan dan takut karena ia telah terlibat dengan hukum. 

“Berapa nomornya Lisa? Aku akan meneleponnya.”

“Handphone milik Lisa aku ambil, karena khawatir ia akan melaporkanku ke polisi.”

“Saat kejadian, ada siapa saja?”

“Melly.”

“Aku harus telepon Melly, untuk memastikan keadaannya.”

“Jangan Ra, aku takut.”

“Kamu harus bertanggungjawab atas perbuatanmu. Kalau Lisa sampai mati bagaimana?”

“Biar saja dia mati karena sudah merebut kekasihku.”

“Sadar Rio, kamu sudah menyalahi kodrat sebagai perempuan normal. Kembalillah ke jalanmu. Aku yakin kamu bisa melakukannya. Bertobatlah!”

Rio terdiam. Pandangan matanya kosong. Aku berusaha mencari nomor Melly di handphone milik Lisa yang diberikan padaku oleh Rio. Aku menemukan nomer itu dan meneleponnya.

Tak ada respon, aku langsung mengirim pesan agar menghubungiku jika sudah membaca pesanku. Akhirnya aku menelepon agen dan menceritakan peristiwa itu. Rio pasrah dalam dekapanku.

Air matanya membuatku tak tega, namun ini adalah negara orang yang punya peraturan hukum, tidak mungkin kita bisa seenaknya membuat peraturan sendiri. 

Setelah menelepon agen dan mendapatkan solusi, akhirnya aku meninggalkan taman itu menuju jalan raya guna mencari taksi. 

Rasa tak tega menyelimutiku, ketika sopir taksi membawa Rio ke kantor polisi terdekat. Aku tak mengantarkannya lantaran Nyonya tak memberi izin. 

"Maafkan aku Rio! Bukan aku tak ingin membantumu, tetapi kamu telah bertindak Kriminal. Dan aku tak bisa membantumu. Jangan lupa memberi kabar sesampainya di kantor polisi."

Keesokan harinya aku mendapat kabar, bahwa Lisa gegar otak akibat benturan keras itu. Lisa pun harus menjalani operasi. Sedang Rio diproses oleh hukum.

Rupanya pertemuan itu adalah pertemuan terakhirku dengan Rio, karena sampai satu tahun terakhir finish kontrak, tak pernah kudengar lagi kabarnya.

Pesawat itu telah membawaku terbang meninggalkan sejuta sesal, lantaran tidak bisa memberikan dukungan moral kepada Rio. Namun dari surat-suratnya kepadaku, ia mengabarkan hal yang baik-baik dan ternyata Lisa bisa diselamatkan. Sehingga hukumannya tidak seberat pembunuhan. 

Air mataku tak berhenti mengalir. Amplop demi amplop telah kubuka dan terbaca. Betapa haru aku dibuatnya. Rio telah kembali menjadi Ria. Sosok santun berbalut gamis dan berpakaian tertutup. 

Tidak akan kulihat lagi rambut cepaknya karena ditutup kerudung. Sungguh hidayah datang tak memandang tempat, walaupun di balik jeruji besi, rasa penyesalan bisa membuat orang menjadi kuat.

Surat terakhir yang membuatku bersedih karena waktu tidak mungkin kembali. 

Dear Ra, yang entah di mana!

Ra, ini surat ke-12 yang kutulis untukmu. Aku tahu, bulan depan kamu sudah finish kontrak. Dan pastinya kamu berbahagia karena akan segera menikah. Dari jeruji besi, aku hanya mampu tersenyum pahit dengan keadaanku. Mungkin inilah jalan yang terbaik menurut Allah. Sungguh aku ikhlas.

"Ra, aku rindu saat kamu memarahiku karena berpenampilan tomboy. Sebenarnya aku selalu iri padamu. Kamu selalu beruntung dalam segala hal, berbeda jauh denganku yang selalu gagal. Ra, maafkan aku, hukuman ini memang pantas buatku. Semoga sepulangku dari penjara nanti kau akan sudi menjemputku di bandara. Aku tidak mau melihat air mata Kakak dan Ibu saat bertemu nanti. Biarlah aku yang datang di hadapan mereka dan meminta maaf atas semua perbuatan burukku. Aku akan menebus segala kesalahanku pada mereka. Aku sudah bertobat. Jeruji besi ini menjadi saksi ketulusanku dan keinginan menjadi wanita sejati.

Ra, kiranya cukup sekian suratku ini, semoga kau membacanya. Selamat menempuh hidup baru.
Salam, Ria

Ku sobek surat itu dan membuangnya di tempat sampah dalam bandara. Tak ingin ku bawa penyesalan diri karena surat itu terlambat sampai ke tanganku.

"Ria, kami semua mendoakanmu dan menanti kebebasanmu.” Aku masih saja memikirkan tentang Ria. Syukurlah, ia telah kembali menjadi wanita normal  yang suatu saat akan jatuh cinta pada lawan jenis, bukannya sesama jenis. Sementara Mindul temanku yang bareng pulang, sudah mendapatkan kopernya di bagasi. Sedang koperku belum ketemu. 

Aku dan Mindul menunggu lama, ternyata koperku tertukar dengan milik orang lain yang sama mereknya. Akibat melamun, jadi tak memerhatikan jika koper itu sudah lewat di hadapan dan diambil orang lain. Setelah dikembalikan, kami segera menuju ruang kedatangan. 

Di sana sudah menunggu keluarga yang sudah kutinggalkan empat tahun lamanya. Keluarga yang sangat aku sayangi.

Story ini adalah kiriman dari user kumparan Salika Najiyya

Kisah Cinta Si Tomboy Hingga Surat Terakhirnya Dari Bilik Jeruji Besi Penjara Hongkong

Powered by Blogger.
close