SUARABMI.COM - Sudah selama 32 tahun berdiri, tempat perlindungan dan penampungan sementara pekerja migran di Hong kong ini memberikan layanan dan perlindungan bagi pekerja yang mengalami penyiksaan ataupun disalah gunakan oleh majikannya.

Namun kini kondisi the Bethune House Migrant Women’s Refuge sudah krisis karena kekurangan dana operasional dan terancam ditutup jika tidak ada suplay dana.

Dana yang ada hanya akan memungkinkan shelter beroperasi sampai akhir Juni. Pekerja rumah tangga yang di masa lalu menerima dukungan dari perlindungan telah bergabung dengan permohonan dukungan publik.

Ariane , seorang pekerja rumah tangga Filipina yang adalah seorang janda dengan dua anak, tinggal di Bethune selama enam bulan sambil menunggu kasus pengadilan dengan mantan majikannya.
[ads-post]
Kasus Ariane adalah kerja yang nonstop dari jam 6 pagi sampai jam 3 pagi, membersihkan vila 4 lantai dan berulang kali mengalami pelecehan verbal (omelan).

Ariane tidak tahan dengan pelecehan dan mengundurkan diri. Pada hari yang sama, majikannya melaporkan kepada polisi bahwa Ariane telah mencuri perhiasan, menyebabkan dia ditahan selama sehari sebelum kemudian dibebaskan karena tidak cukup bukti.

Ariane memutuskan untuk pergi ke pengadilan dan mencari kompensasi dari mantan majikannya. Tetapi dia harus melakukan ini pada saat ketika dia tidak punya uang, dan tidak ada tempat tinggal.  Di Shelter itulah Ariane tinggal.

Banyak pekerja rumah tangga lain yang telah menerima dukungan dari amal Bethune. Bethune House didanai melalui sumbangan dari gereja-gereja lokal, organisasi migran, lembaga layanan, dan individu yang peduli di Hong Kong dan di luar negeri. Ia tidak menerima subsidi pemerintah.

Shelter ini menyediakan tempat berteduh dan makanan serta konseling kepada sekitar 30 pekerja rumah tangga setiap bulan.

Shelter Tenaga Migran Hong Kong Terancam Tutup Akhir Bulan Ini Lantaran Kekurangan Dana

loading...
Powered by Blogger.