loading...
============

SUARABMI.COM - Terletak di kawasan industri Dayuan di Kabupaten Taoyuan, Masjid At-Taqwa berdiri pada bulan Juni 2013 dan merupakan masjid ketujuh di Taiwan. 

Pasangan suami istri Huang Chin-lai membangun masjid tersebut dengan biaya sebesar NT $8 juta, yang mereka peroleh dari menjual nasi kotak atau yang biasanya disebut pientang dalam bahasa mandarin.

Huang Chin-lai lahir di Kabupaten Taoyuan, ia memiliki 3 orang anak dari pernikahan selama 20 tahun dengan istri pertamanya. Setelah menganggur sekian lama, ia bekerja di Kawasan Industri Dayuan di sebuah pabrik cat dan pewarna.

Ia bekerja keras dan meniti karir hingga menjadi seorang kepala pabrik. Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. 

Ketika ia menginjak usia ke-50, pabrik tempat ia bekerja mengalami kebangkrutan karena krisis finansial global, dan 47 orang buruh migran tiba-tiba harus kehilangan pekerjaan.

Huang Chin-lai tidak tega melihat mereka kehilangan penghasilan dan tidak dapat membeli tiket pesawat untuk pulang, sehingga ia dengan menggunakan nama pribadi meminjam uang dari bank sebesar NT $2 juta untuk membayar pesangon dan tiket pesawat kepada 47 buruh migran.
[ads-post]
Kebaikan yang dilakukan Huang Chin-lai memberikan kesan sangat mendalam kepada Huang Lee-shan, seorang buruh migran asal Indonesia. Setelah kembali ke Indonesia, Lee-shan sering sekali menelepon Huang Chin-lai untuk menanyakan keadaannya.

Percakapan jarak jauh tersebut berubah menjadi rasa cinta di antara keduanya, setelah menjalin hubungan jarak jauh selama 2 tahun, mereka memutuskan untuk menikah. Demi menikahi Lee-shan yang beragama Islam, pada tahun 2004, Huang Chin-lai secara khusus pergi ke Indonesia untuk memeluk agama Islam.

Ketika berpacaran jarak jauh, Lee-shan sempat bekerja sebagai buruh di Amerika dan Kanada, namun ia rela untuk menikah dan berjuang bersama Huang Chin-lai untuk mengembalikan hutang. Saat itu, Huang Chin-lai hanya bisa bekerja serabutan, tidak mudah bagi dirinya untuk mendapatkan pekerjaan baru karena usianya yang sudah tidak muda lagi.

Di masa awal pernikahan mereka, sebagian besar biaya rumah tangga turut dipikul oleh Lee-shan dengan bekerja sebagai buruh pabrik. Pada tahun 2008, mereka memulai usaha menjual nasi kotak dengan cita rasa Indonesia di Kawasan Industri Dayuan. Nasi kotak yang mereka jual seharga NT $60 per bungkus itu sangat disukai oleh buruh migran, dan terkenal hingga ke Kota New Taipei.

Pada tahun 2011, awalnya Lee-shan memiliki keinginan untuk membangun sebuah musala sebagai ungkapan rasa syukur, lalu ia membeli sebidang tanah di samping toko nasi kotak. Karena banyaknya pengunjung yang datang, timbullah kebutuhan untuk membangun sebuah masjid, yang berarti biaya yang harus dikeluarkan pun bertambah 10 kali lipat.

Namun akhirnya, dari pendapatan menjual nasi kotak dan sumbangan dari berbagai kalangan, kini berdirilah masjid At-Taqwa. Walaupun masih berhutang NT $2 juta, namun Huang Chin-lai yang kini berusia 60 tahun dan Huang Lee-shan yang berusia 35 tahun mengaku sangat gembira dengan masjid yang telah berhasil dibangun ini.

Sumber : Taiwan Today , indogo & China Times

Hebat...! Berbekal Hanya Menjual Nasi Pientang, Pasutri Ini Bangun Mesjid Di Taoyuan Taiwan

Powered by Blogger.
close