loading...
============

SUARABMI.COM - Kasus kekerasan terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kembali dialami seorang TKW asal Kabupaten Sukabumi.

Kejadian memilukan ini menimpa Reni (23 tahun) warga Kampung Sukamanah RT 04/01, Desa Mekartanjung, Kecamatan Curugkembar. Akibat kekerasan yang dialami saat kerja di Dubai, kini Reni menderita gangguan jiwa.

Reni berangkat kerja pada Oktober 2015 dan pulang pada Maret 2016.

Sekilas tak ada yang aneh dengan kondisi Reni, secara fisik ia tampak seperti wanita normal pada umumnya. Namun sangat sulit berkomunikasi dengan ibu tiga anak ini.

Reni tinggal di sebuah rumah berdindingkan kayu. Rumah Reni berdampingan dengan rumah Asikah (52 tahun), ibu Reni.

Asikah menuturkan Reni pamit bekerja ke Dubai dengan alasan ingin membuat rumah. Reni diantar suaminya Andri (30 tahun) pergi ke tempat penyalur kerja, padahal saat itu anak Reni sudah memiliki dua anak dan yang kecil baru berusia satu tahun.

"Akhirnya saya izinkan anak saya pergi dan dua anaknya Reni yang masih berusia balita saya yang urus," kata Asikah.
[ads-post]
Sekitar enam bulan berlalu, Asikah tiba-tiba menerima telepon dari seseorang yang mengaku majikan Reni. Dibantu oleh tetangga, Asikah bisa berkomunikasi dengan orang yang berbahasa Arab itu. Dari penjelasan di telepon itu, Reni dijelaskan dalam keadaan sakit dan akan dipulangkan. Tapi pulang tanpa bawa uang karena upahnya selama 5 bulan kerja dipakai untuk ongkos pulang.

Sehari setelah menerima telepon itu, Reni pun pulang. Suami dan saudara Reni pun menjemputnya ke Bandara Soekarno Hatta. Di bandara, Reni tidak didampingi siapapun dan ditemukan di pos satpam bandara sedang melamun.

Kondisi mental Reni tak stabil, kadang sadar kemudian mendadak mengamuk, meski demikian suaminya selalu ada hingga Reni mengandung anak ketiganya.

"Pas itu Reni kadang sadar kadang enggak, kadang ngamuk juga, tapi sama suaminya tetap akur makanya hamil," ujarnya.

Namun, satu hari setelah Reni melahirkan anak ketiga, suaminya pergi dan hingga kini tak pernah lagi menampakan batang hidungnya.

Akhirnya Reni dan dua anaknya diurus Asikah. Sedangkan anak ketiga Reni diurus saudaranya.

"Anaknya yang paling besar udah kelas tiga SD, terus yang kedua ini tiga tahun, belum makan kami berempat. Makanya tak jarang saya menjadi kuli serabutan untuk biaya anak saya ini," ujar Asikah.

Asikah sangat berharap pihak pemerintah dapat membantu proses penyembuhan Reni. Apalagi dengan beban dua anak Reni yang terpaksa ia tanggung.

Sementara itu, Kepala Desa Mekar Tanjung Rudi Kuswara menegaskan bahwa ia sangat marah dengan banyaknya kasus sponsor penyalur tenaga kerja bodong yang menipu warganya.

"Kami sangat mengharapkan bantuan dari penegak hukum untuk memberi efek jera pada para sponsor bodong yang selama ini beroperasi di wilayah kami, karena hampir 40 persen warga kami menjadi TKW dan itu tanpa ada pemberitahuan pada kami selaku aparat pemerintah," katanya.

Kondisi Reni yang sering mengamuk sangat membahayakan keselamatannya dan orang lain dinilai perlu penanganan kondisi kejiwaannya.

"Kami akan berkoordinasi dengan pihak keluarga dan Dinas Sosial untuk penanganan Reni lebih lanjut," ujar Rudi.

Rudi mengungkapkan, dalam penanganan kejiwaan Reni, pihak pemerintah desa bekerja sama dengan petugas kesehatan setempat yang rutin mengontrol kesehatan fisik Reni.

"Kami selalu memberi pengawasan dan pengecekan kesehatan bahkan sejak ia hamil. Namun kami belum menemukan solusi yang pas untuk masalah kejiwaan Reni karena harus berkoordinasi dengan semua pihak," kata petugas kesehatan Pustu Desa Mekartanjung, Awan Setiawan.

TKW asal Sukabumi Pulang Tanpa Upah dan Derita Gangguan Jiwa

Powered by Blogger.
close