loading...

SUARABMI.COMDalam kehidupan nyata banyak kita temukan sepasang suami istri sepakat melakukan pembagian kerja yang mereka anggap menguntungkan bagi kedua belah pihak, suami menjaga anak-anak di tanah air, sementara istri bekerja sebagai TKW di negeri orang. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kesepatakan (suami-istri) ini sesuai dengan ajaran Islam?

Dalam kehidupan bersosial manusia tidak lepas dari hak dan kewajiban, sebagai contoh saat seseorang menjadi pelajar maka baginya memiliki hak dan kewajiban sebagai seorang pelajar, kewajibannya membayar iuran sekolah perbulan atau persemester sedangkan haknya adalah mendapat pendidikan yang layak dan mendapatkan ijazah ketika lulus ujian akhir.

Begitu juga saat seseorang bekerja tentu mempunyai hak dan kewajiban, haknya adalah mendapat jaminan dari tempatnya bekerja berupa gaji pokok dan tunjangan adapun kewajibannya adalah bekerja dengan baik sesuai aturan yang berlaku di tempatnya bekerja, sehingga tidak ada istilah “memakan gaji buta”.

Lalu bagaimana dengan kehidupan berumah tangga, apakah terdapat hak dan kewajiban bagi suami istri?
[ads-post]
Dalam keluarga tentu terdapat hak dan kewajiban yang harus dipenuhi satu sama lainnya, hak dan kewajiban suami istri tertulis dengan jelas sebagai sebuah kesepatakan antara keduanya di buku akta pernikahan saat mereka mengikat sebuah perjanjian yang kokoh di hadapan penghulu, saksi, para tamu undangan dan Allah Ta’ala.

Jika kita renungi, seorang wanita atau istri yang bekerja di dalam negeri saja, mereka harus berjuang untuk tetap memenuhi hak dan kewajibannya dalam keluarga dan dalam memberikan kasih sayang serta pendidikan terhadap anak-anaknya.

Betapa tidak mudahnya seorang istri berpisah dalam waktu yang cukup lama dengan bekerja melanglangbuana hingga ke luar negeri sebagai TKW, apakah semua hak dan kewajiban dalam keluarga dapat terpenuhi?, wanita yang bekerja di dalam negeri saja masih berjuang untuk tetap memenuhi hak dan kewajiban karena hal ini tidak mudah, maka tak jarang mereka menitipkan anak-anak mereka kepada pengasuh atau pembantu rumah tangga.

Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub juga menegaskan perihal seorang istri yang menafkahi keluarga dengan mengatakan sekiranya ada wanita (istri) yang memberi nafkah keluarga karena berbagai sebab dan ia rela, maka itu tidak ada masalah baginya. Tapi andai ia tak rela, maka hukum Islam memberikan jalan keluar. Ia dapat mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama, karena ia tidak mendapat nafkah dari suami. Dalam ajaran Islam dikenal dengan istilah “Khulu” yaitu gugatan cerai yang dilayangkan oleh seorang istri kepada suami.

Dan memang faktanya seribu banding satu ada suami yang lebih menginginkan istrinya menjadi TKW, sebagian besar mengizinkan bahkan mendorong para istrinya bekerja dengan alasan kondisi ekonomi yang kurang mengizinkan, kenapa demikian?

Karena di era modern kita seringkali kesulitan membedakan antara kebutuhan primer dan sekunder, tanpa disadari kita sering terjebak dengan urusan-urusan sekunder yaitu kebutuhan yang bersifat hasrat duniawi yang kadang memberatkan pikiran dan pundak kita, dibutuhkan sedikit saja sudut pandang yang luas dalam menatap dunia yang sebenarnya amatlah sempit. Anehnya banyak manusia yang senang dengan hal-hal yang mereka kira sulit padahal itu sangatlah mudah.

Istri Menafkahi Keluarga dengan Menjadi TKW, Suami Menjaga Anak?

Powered by Blogger.
close