loading...

SUARABMI.COM - Erwiana Sulistyaningsih dan Tutik Lestari Ningsih tidak terima mantan majikan mereka Law Wan-tung yang menyiksa kedua Pekerja Rumah Tangga (PRT) Migran dibebaskan lebih awal dari masa hukuman yang seharusnya diterima.

Kedua PRT Migran asal Indonesia itu, bersama grup pembelanya mempertanyakan keputusan pembebasan awal itu dalam jumpa pers yang diadakan hari ini, Kamis (22/11/2018).

"Saya merasa sedih dan kecewa ketika mengetahui mantan majikan saya telah dibebaskan dari penjara lebih awal dari masa hukuman yang telah dijatuhkan," ujar Erwiana melalui rekaman suara saat jumpa pers.

Erwiana juga merasa bahwa vonis penjara 6 tahun kepada mantan majikannya itu dirasa tidak cukup, mengingat kejahatan yang telah dilakukan kepada korban-korbannya. Sementara Tutik merasa kuatir dan tidak merasa aman mengetahui Law Wan-tung dibebaskan dari kurang masa hukumannya.

"Saya merasa tidak aman, mengetahui bahwa dia telah dibebaskan, karena saat dia menyiksa saya dahulu, dia sering mengancam untuk membunuh saya dan keluarga saya," ujar Tutik kepada suara.
[ads-post]
Kabar dibebaskannya pelaku penyiksaan terhadap PRT Migran asal Indonesia ini diketahui dari keterangan seorang pengacara dari Justice Department of Hong Kong, Yvonne Cheung, ketika dirinya menghubungi Penjara Lo Wu.

"Dia sudah dibebaskan beberapa bulan lalu," ujar Cheung, seperti dilaporkan oleh South China Morning Post.

Juru bicara Correctional Services Department mengatakan tidak bisa memberikan komentar terhadap peristiwa ini.

"Untuk melindungi privasi individual, kami tidak bisa memberitahukan data personal tahanan," ujarnya.

Eni lestari, Ketua International Migrants Alliance, juga mempertanyakan mengapa pembebasan awal ini juga terjadi.

"Hukuman 6 tahun terhadap Law Wan-tung sebenarnya terlalu sedikit, ini akibat hukum belum mempunyai undang-undang anti perbudakan dan human trafficking. Dengan masa hukuman itu saja dia tidak menjalani secara penuh, ini ada apa?" Ujar Eni Lestari

Menurut Eni belum ada keterangan resmi juga yang memberitahu soal pembebasan awal ini. Hal ini yang akan ditindaklanjuti oleh organisasi yang mengadvokasi kasus Erwiana ini.

"Ini makanya karena tidak ada penjelasan resmi makanya ananti kami akan bicara ke kelompok pengacara kami dan akan meminta keterangan dari Departement of Justice Hong Kong, apa dasarnya pembebasan awal ini?" pungkasnya.

Selain itu Cyntya Telez dari Mission for Migrant Workers, organisasi yang mendampingi Erwiana mengatakan bahwa pembebasan awal terhadap Law Wan-tung patut dipertanyakan.

"Pembebasan awal ini membuat kita patut mempertanyakan apa yang terjadi pada sistem di Hong Kong?" Pungkasnya. | suara

Majikan Penyiksa Dibebaskan Lebih Awal, Erwiana dan Tutik Tidak Terima

Powered by Blogger.
close