loading...

SUARABMI.COM“Saya baru tahu kalau ada aturan ini, jadinya ya begini, gak bisa terbang. Majikan saya sedang ke Eropa urus bisnisnya, sedangkan nenek yang saya jaga sendirian di flatnya mulai besok” keluh Yanti, TKI Singapura asal Madiun.

Dituturkan Yanti pada Sabtu (08/12/2018) siang kemarin, dirinya mengaku gagal terbang kembali ke tempatnya bekerja di Singapura setelah dua minggu cuti karena ditahan petugas di Bandara. 

Menurut penjelasan petugas Bandara yang ditirukan Yanti, namanya tidak terdaftar dalam SISKOTKLN padahal Yanti bekerja di Singapura sudah sejak tahun 2012 atau enam tahun yang lalu.

“Bukan hanya itu mas, saya ditunjukin edaran, katanya majikan saya harus ngurus kontrak saya di KBRI. Setelah kontrak tersebut diurus, surat kontraknya disuruh mengirimkan ke saya, baru nanti setelah saya bisa menunjukkan kontrak yang baru, petugas akan memperbolehkan saya terbang” lanjutnya.

Ternyata setelah ditelusuri, ada sebuah edaran pengumuman yang dikeluarkan oleh KBRI Singapura pada 6 Desember 2018 kemarin.
[ads-post]
Pengumuman tersebut disampaikan kepada seluruh agen penyalur di Singapura, seluruh PPTKIS yang menyalurkan Calon TKI ke Singapura, Seluruh TKI di Singapura, serta seluruh majikan yang memperkerjakan TKI di Singapura.

Isi pengumuman tersebut memuat 5 point terkait dengan aturan baru kontrak kerja TKI yang di endorse KBRI. Intinya, jika belum memiliki kontrak kerja yang diendorse KBRI, maka TKI yang bersangkutan jika telah berada di Indonesia dan akan kembali ke Singapura harus menunggu majikan mereka mengurus kontrak kerja baru yang ada endorse KBRI.

Selama belum memiliki kontrak yang ada endorse KBRI, TKI yang bersangkutan akan ditahan oleh petugas di Bandara dan tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Singapura untuk bekerja.

Bagi TKI yang belum memiliki kontrak kerja dengan endorse KBRI dan masih berada di Singapura, tidak akan terlalu ribet dalam mengurusnya. Namun jika TKI yang bersangkutan sedang cuti dan akan kembali ke Singapura, tentu akan mengalami hal yang sama seperti Yanti.

Yanti hanyalah satu dari ribuan TKI di Singapura yang mengalami nasib serupa. Kebijakan yang menurut mempersulit dirinya ini membuatnya tidak bisa memilih selain harus kembali pulang ke kampung halaman sampai dengan majikan yang menandatangani kontrak kerjanya kembali dari Eropa dalam waktu yang belum dia ketahui.

“Majikan saya marah dan kaget mas. Ini aturan apa lagi katanya. Kalau saya, kepikiran banget dengan nenek. Nenek usianya sudah tua, kasihan kan kalau saya gak balik-balik. ” pungkasnya.

Banyak TKI Usai Cuti Gagal Terbang Gara-Gara Aturan Baru Ini

Powered by Blogger.
close