loading...

SUARABMI.COM - Aku adalah seorang yang terlahir dari keluarga pas-pasan, tidak banyak pilihan yang bisa di lakukan untuk keluarga miskin seperti kami, apalagi dengan kondisi saudara yang masih kecil-kecil.

Sebagai seorang anak yang mencintai keluarganya, sudah barang tentu aku berpikir sebuah cara untuk membantu orangtua yang telah membesarkanku. 

Namun dengan ijazah formal yang tidak dapat dibanggakan, apalagi keadaan negeri tengah carut-marut, seakan tertutup harapan ini melangkah.
Aku hanya seorang wanita yang masih sangat muda saat itu. Di tengah ramainya kasus buruk akibat krisis moral bangsa, banyak wanita muda sepertiku rela mempertaruhkan apapun demi mendapat segepok rupiah, tak peduli hal tersebut haram atau halal.

Di tengah kebingungan yang mendera, datanglah seorang wanita yang kebetulan teman tetanggaku, dia wanita yang cukup menarik, menceritakan kepadaku tentang pekerjaannya yang menjanjikan jutaan rupiah. Katanya, kerjanya ringan dan tidak memandang ijazah.

Saat aku tanya jenis pekerjaannya, dia mengelak. Atas kehendak Allah, seseorang yang sangat dekat dengan wanita tersebut secara sembunyi-sembunyi mengabarkan kepadaku tentang jenis pekerjaan yang ditawarkan kepadaku tersebut. 

Pekerjaan itu tak lain pekerjaan yang menyewakan harga diri dan kesucian pada lelaki hidung belang, tepatnya di kota Batam. Duh Gusti Allah, lebih baik kami sekeluarga mati kelaparan daripada harus hidup dengan uang yang didapat dengan cara kotor.

Akhirnya, pekerjaan tersebut aku tolak mentah-mentah, hingga datanglah kabar tentang kesuksesan-kesuksesan Tenaga Kerja Wanita (TKW) luar negeri. Padahal, saat itu masih sangat sedikit dikampungku yang menjadi TKI.

Tapi bagaimana saya yang masih belum genap sembilan belas tahun harus pergi keluar negeri? Sungguh sangat mengerikan. Masalahnya, bagiku berpangku tangan melihat kesengsaraan orangtua dan adik-adik di kampung akan jauh lebih mengerikan. Sebab mereka membutuhkan bantuan.

Demi rasa bakti yang tulus terhadap keluarga tercinta, aku akhirnya nekad mendaftarkan diri menjadi TKW, aku tak berpikir apa resikonya.

Saya ingat sebuah kutipan dalam al-Quran, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka.”
[ads-post]
Tak menunggu waktu lama, saya akhirnya berangkat juga ke luar negeri. Sebelum berangkat, saya pertama kali sangat terkejut ketika ditampung oleh Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) di kota Surabaya. Pertama yang saya rasakan, kehidupan di penampungan itu sangat memprihatinkan. Kami layaknya budak di hadapan staf PJTKI.

Dan lebih terkejut lagi, saat mendengar kabar dari salah satu teman, bahwa sebelum menjalani proses menjadi calon TKW, kami harus medical ceck-up dahulu. Dokter yang memeriksa kami adalah laki-laki. Lebih kurang ajar lagi, saat medical ceck-up, kami diharuskan tel4njang. Katanya, ini untuk memastikan bahwa calon TKI/TKW benar-benar dalam keadaan sehat jasmani dan rohani.

“Oh Ya Allah, kami ini bukan pelacur, kami ini punya keinginan memperjuangkan nasib buruk kami di desa untuk keluarga. Jika ada pekerjaan lain lebih baik, mungkin kami juga tak mau menjadi TKW.”

Untuk urusan tidur, kami layaknya ikan teri yang dijejer secara rapi di atas lantai dengan kasur tipis. Untuk urusan makan, kami harus mengantri dengan antrian panjang. Makanan yang kami makanpun seperti makanan yang lebih cocok untuk makan kucing, di kampung kami.

Jika tak ingat keluarga dan demi sesuap nasi, mungkin saya sudah balik ke kampung halaman. Namun mengingat itu semua, apalagi uang yang kami keluarkan juga tak sedikit, akhirnya semua “kekejaman” dan “pelecehan” itu pura-pura aku lupakan.

Akhirnya, sebelum rangkaian medical ceck—up aku lewati, ada peristiwa tragis yang menimpa seorang PJTKI. Kala itu, PJTKI didemo warga. Kami tidak tahu pasti alasannya, beberapa para calon TKW berhasil kabur dari PJTKI. Sebagian dikurung oleh PJTKI, seolah hewan. Bahkan tidak ada celah sedikitpun untuk melirik dunia luar selama ditampung PJTKI.

Aku bersama kawan-kawan lain kabur, lalu pindah ke PJTKI yang lebih ramah dan tidak menyuruh kami menggugurkan harga diri.

Meski tidak bisa dikatakan layak, setidaknya PJTKI yang baru lebih baik dibanding PJTKI Surabaya yang sebelumnya aku huni.

Di tempat baru, kami harus menunggu berbulan-bulan di PJTKI, tentu saja dengan rutinitas yang monoton dan membosankan, membuat kami benar-benar jenuh.

“Ya Allah, hanya demi sesuap nasi kami harus menghadapi kesengsaraan demi kesengasaraan?”. Akhirnya, kabar menggembirakan itu datang juga. Aku mendapat pekerjaan di negeri seberang, di Negara Hong Kong. Alhamdulillah.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Hong Kong, aku sangat kaget dengan keindahan kota ini. Sungguh semuanya serba canggih, tak seperti di desaku, di Jawa Timur. 

Sampai toko kelontong kecilpun menggunakan pintu kaca yang otomatis. Bangunan-bangunan yang kokoh dan rapi. Tidak ada pengemis atau anak jalanan yang berkeliaran di jalan, karena orang jobless (pengangguran) dan ekonomi lemah mendapat santunan tiap bulan dari pemerintah di sini.

Rakyatnya disiplin dan pekerja keras, tidak ada anak muda yang nongkrong-nongkrong di jalanan sambil bawa gitar, sebagaimana saya lihat di Indonesia.

Saya lebih bergembira, ketika bos ku, yang kini menjadi tempatku bekerja, ternyata ramah dan baik. Mereka tegas tapi tidak menuntut penghormatan berlebihan. to be conitue ...

Demi Keluarga, Aku Nekat Menjadi TKW

Powered by Blogger.
close