-----
loading...

====

Berteman

SUARABMI.COM - Sebuah paparan baru-baru ini yang dimuat oleh sebuah surat kabar di Hong Kong telah menjelaskan kisah-kisah yang meresahkan tentang perbudakan modern yang terjadi di kota Hongkong.

The Sing Tao Daily mencatat bahwa pekerja rumah tangga asing di Hong Kong dengan mudah menjadi korban perdagangan manusia dan eksploitasi dalam bentuk intimidasi, paksaan atau kekerasan.

Dalam satu kasus, seorang pekerja Indonesia bernama Tina hanya menerima upah HK $ 500 (US $ 64) yang sangat sedikit sebulan. Ini karena gajinya yang sah tidak kurang dari HK $ 4.520 per bulan seperti yang ditetapkan oleh pemerintah Hong Kong dimana hal ini telah diketahui oleh majikan maupun agensi.

Tidak dapat melakukan pembayaran satu kali dari "biaya rujukan" senilai HK $ 8.000 kepada agensinya, Tina harus melunasi "hutang" dengan cicilan, yang disertai biaya lain-lain, bunga, dan bahkan "denda" dikurangi dari gaji bulanannya.

Di atas semua ini, Tina bahkan tidak mendapatkan satu hari libur dalam lebih dari empat tahun. Selain bekerja sebagai juru kunci di rumah majikannya, dia, di bawah tekanan, juga harus menjalankan tugas dan tenaga di sebuah kios buah, menurut surat kabar itu.

Tina menjelaskan bahwa majikannya berbohong kepadanya, mengatakan kepadanya bahwa pekerja asing di Hong Kong tidak mendapatkan cuti. Hanya melalui obrolan santai dengan rekan senegaranya dua tahun kemudian Tina menyadari bahwa ia berhak secara hukum untuk tidak kurang dari satu hari libur setiap minggu. Meski begitu, takut kehilangan pekerjaannya dan dipulangkan kembali ke Indonesia, dia tetap memutuskan untuk tetap patuh.

Setelah dua tahun berlalu, kontraknya diputus oleh majikannya hanya karena Tina menuntut kenaikan gaji, yang berarti dia harus kembali ke kampung halamannya.
[ads-post]
Kasus lain melibatkan seorang Sri Lanka bernama Malika, yang pingsan karena susahnya membersihkan empat vila serta mengemas barang di toko majikannya. Dia disuruh melanjutkan pekerjaannya kurang dari empat hari setelah dipulangkan dari rumah sakit. Kemudian terungkap bahwa dia dibayar HK $ 2000 per bulan.

Malika diselamatkan oleh polisi dan sukarelawan dari Stop Trafficking of People, sebuah organisasi non-pemerintah lokal, setelah cobaan hampir dua tahun, dan kemudian didiagnosis dengan gangguan stres pascatrauma. Majikannya sedang diselidiki oleh polisi. Kasus ini digambarkan sebagai penghinaan lain terhadap hak asasi manusia dan martabat oleh media lokal dan luar negeri.

Mina, seorang pekerja Indonesia lainnya, diharuskan oleh majikannya untuk tinggal di rumah yang sempit dan tak berjendela di sebuah desa terpencil di New Terotories utara untuk merawat sebanyak 19 anjing.

Mina harus tidur dengan anjing-anjing itu di tempat-tempat yang berbau busuk dan berbau busuk. Tak lama kontraknya diakhiri oleh majikannya untuk menghindari tanggung jawab dan klaim kompensasi setelah dia digigit dan dirawat di rumah sakit.

Dari sekian kisah diatas, adakah sahabat BMI Hongkong yang masih mengalami nasib yang sama yang dialami oleh mereka yang kurang beruntung?

Nasib TKW Hongkong Ini Seperti Budak Modern, Begini Mereka Diperlakukan oleh Majikannya, Semoga Kamu Tidak Mengalaminya

Diberdayakan oleh Blogger.
close