loading...

”Sing ndadosne tambah pikiran niku, pun larene mboten wonten kabare, mboten genah jluntrunge, ujug-ujug wonten rencange dugi mriki nagih utang. Ngaten niku wongsal-wangsul, ngantos sabinne kadol. (Yang bikin kami kepikiran, sudah anaknya enggak ada kabar, enggak jelas nasibnya, tiba-tiba ada kawannya datang ke sini nagih utang. Itu terjadi berulang kali, sampai sawahnya terjual),” tutur Karni.

Warga Getas, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora – Jawa Tengah tersebut adalah ayahanda dari Miswantini, perempuan kelahiran 1979, yang oleh keluarganya diyakini masih tinggal dan bekerja di Hong Kong. Karni dan Ceblak, kedua orangtua Miswantini, mengaku sudah 10 tahun kehilangan kontak dengan anak perempuannya itu.

”Kepanggih ingkang pungkasan niku pas wangsul, Desember 2007, naliko cuti. Sak wulan wonten nggriyo. Nanging, naliko cuti kolo semanten, unggah-ungguhe lare niku (Miswantini) sampun owah adate. (Kami bertemu terakhir ketika dia cuti pulang pada Desember 2007. Satu bulan dia di rumah. Namun, selama berada di rumah, perilaku dan tata kramanya sudah berubah),” lanjut Karni.

Selain rambutnya disemir warna pirang, menurut sang ayah, pakaian anaknya sudah serba terbuka. Apalagi kalau keluar rumah, sering pakai baju pendek atau baju ketat. ”Sampai-sampai menjadi buah bibir tetangga,” cetusnya. Sebagai orangtua, Karni mengaku sempat menegur Miswantini agar tidak lagi berpenampilan seperti itu.

Bukan hanya perbedaan budaya yang kontras antara kehidupan di Desa Getas dengan di Hong Kong. Sebagai perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren, perilaku yang ditunjukkan Miswantini tentu bertolakbelakang dengan latar pendidikannya. ”Saat itu, waktu saya nasihati, dia cuma njawab iya-iya saja. Tapi, belakangan dia malah jadi jarang keluar rumah. Sampai 12 Januari 2008, saat cutinya habis, dia terbang lagi ke Hong Kong,” papar Karni.
[ads-post]
Sekembali ke Negeri Beton setelah cuti di pengujung akhir 2007 hingga awal 2008, Karni mengaku hanya sekali anak gadisnya itu menghubungi keluarga. Selanjutnya, sejak Februari 2008 sampai sekarang, tak pernah sekalipun Miswantini mengontak keluarga atau mengambil waktu untuk cuti pulang ke kampung halaman. ”Sesampai di Hong Kong, dia bilang tidak ada masalah. Dia masuk kerja ke rumah majikan baru. Karena sebelum pulang, Mis mengaku sempat mengurus pindah majikan dulu,” jelasnya.

Karni maupun Ceblak sama-sama bertanya, apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya? Yang terang, ketiadaan kabar Miswantini semakin menambah beban pikiran kedua orangtuanya. Apalagi, pada 2016, tiba-tiba datang seorang warga Kediri yang mengaku sebagai teman Miswantini di Hong kong. Orang itu datang untuk menangih utang.

”Dia bilang, Mis punya utang berapa ribu dolar gitu. Akhirnya, saya ceritakan semua, kalau Mis sudah tidak lagi berkabar sejak Februari 2008. Orang itu kaget. Sebab, antara tahun 2008 sampai 2015, dia mengaku sering bertemu dengan Mis saat hari Minggu di Hong Kong. Orang itu datang ke sini karena tidak bisa lagi menghubungi Mis. Katanya, sudah sekitar setahun nomor ponsel Mis tak bisa dihubungi. Ketika dia tanyakan ke teman-teman lain di Hong Kong, juga tidak ada yang tahu,” tutur Karni.

Melihat kondisi kedua orangtua Miswantini, PMI asal Kediri tersebut kemudian pulang dan mengikhlaskan utang Miswantini. Namun, setelah kedatangan PMI asal Kediri tadi, ada tiga orang keluarga PMI lainnya yang juga menagih utang Miswantini dengan mendatangi Karni dan Ceblak di Blora.

”Ya, begitulah Mas yang menyebabkan ibunya Mis, istri saya, menjadi begini kondisinya. Dia kena stroke. Kami tidak punya apa-apa. Sampai-sampai, kursi roda ini saja kami dapat dari sumbangan anak yang ngakunya juga bekerja di Hong Kong,” jelas Karni.

Karni sekeluarga sangat berharap, Miswantini bersedia pulang untuk menengok kedua orangtuanya. Kepulangan Miswantini sekaligus juga penting untuk menjawab teka-teki yang selama ini menjadi misteri. Bahkan, hingga mengakibatkan kedua orangtua Miswantini terbebani pikiran, sampai membuat ibunya mengalami stroke.

Karni berharap, jika ada pembaca yang mengetahui jejak Miswantini, dengan segala kerendahan hati dimohon bantuannya untuk memberitahu keluarga atau, jika Miswantini sendiri yang membaca kabar pencarian ini, diminta untuk segera menghubungi keluarga atau pulang ke Blora.

Berikut petikan pesannya :
Karni, Ayahanda Miswantini : ”Mis, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Bapak dan ibumu mumet memikirkan kabarmu, yang tiba-tiba hilang hingga sepuluh tahun lamanya. Kamu ini kenapa kok tidak mau ngabari rumah, tidak mau pulang? Lihatlah Mis, ibumu saat ini lumpuh. Tidak bisa berdiri. Makan sendiri saja juga tidak bisa. Ibumu sudah hampir dua tahun terserang stroke. Ini juga karena ulahmu, ndhuk.

Berkali-kali ada orang datang ke sini nagih utang. Mereka mengaku temanmu di Hong Kong. Katanya, saat mereka masih di Hong Kong, kamu pinjam uang ke mereka. Untuk apa uang itu, ndhuk? Kenapa kamu nekat ngutang yang, kalau ditotal-total, jumlahnya bisa untuk membeli sawah yang luas. Sedangkan, selama sepuluh tahun belakangan, kamu juga tidak pernah sama sekali ngirim uang.

Tobato ya ndhuk, tobat. Kabari kedua orangtuamu mumpung kami masih hidup. Jangan sampai, saat kamu berniat mendatangi kedua orangtuamu, yang bisa kamu temukan hanyalah kuburan. Ojo sampek yo ndhuk.”

Ceblak, Ibunda Miswantini : ”Ndhuk, muliho. Ibu ora iso ngomong opo-opo maneh sak liyane njaluk kowe muleh. Ojo nganti kowe muleh ibumu wis ora ono. Ojo sampek kowe muleh mung weruh kuburan ibumu. Muliho ya ndhuk. Ibu kangen. (Nak, pulanglah. Ibu sudah tidak bisa ngomong apa-apa lagi, selain memintamu pulang. Jangan sampai kamu pulang ibumu sudah tidak ada. Jangan sampai kamu pulang cuma melihat kuburan ibumu. Pulanglah. Ibu merindukanmu).”

10 Tahun Hilang di Hong Kong, Ayahnya Berpesan : “Pulanglah, Sudah Dua Tahun Ibumu Terkena Stroke”

Powered by Blogger.
close