loading...

SUARABMI.COM - Awalnya itu saya nasehati, jangan karena kerja ke Hong Kong kemudian penampilan dan kehidupan sehari-hari menjadi jauh dari agama. Bukan tanpa alasan, sebab saat cuti pulang, istri saya berubah 180 derajat. Jadi mengenal rokok dan alkohol” ungkap Mujari (49), suami Kasanatun (43), warga Desa Jati Marto Kecamatan Ngadirojo Wonogiri Jawa Tengah melalui sambungan telpon dari Malaysia.

Mujari mengaku saat Kasanatun nekat berangkat bekerja ke Hong Kong tahun 1999, dirinya sedang merintis nasib bekerja di sebuah ladang Sawit Malaysia usai terkena PHK besar-besaran dampak krisis moneter tahun 1997. Mujari mengetahui istrinya berangkat bekerja ke Hong Kong pada tahun 2001 saat dirinya cuti pulang saat lebaran.

“Saya marah dan kecewa, sebagai suami, ditinggal ke Hong Kong tanpa pamitan. Padahal, saya tidak dalam kondisi menganggur tanpa penghasilan. Uang kiriman selalu saya kirim tiga bulan sekali karena kondisi saya di pedalaman perkebunan kelapa sawit, dan hasil yang bisa saya kirim, nilainya jauh diatas upah saya saat bekerja di pabrik dulu” kenang Mujari.

Mujari menurutkan, setahun berselang atau tahun 2002, dirinya baru bisa berkomunikasi dengan istrinya melalui surat. Dalam suratnya, Kasanatun mengaku bekerja di daerah Tuen Mun Hong Kong di sebuah keluarga Kanton.
[ads-post]
“Saat cuti bareng tahun 2004, itulah awal pemicunya. Saya meminta istri saya untuk tidak kembali ke Hong Kong karena dia setelah 4 tahun di Hong Kong menjadi berubah. Tidak pernah sholat, dandanannya seperti perempuan nakal, rambutnya pirang, kenal rokok dan alkohol. Saya jijik melihat. Dinasehati baik-baik malah mencak-mencak, katanya hak asasi. Lalu dia berangkat kembali ke Hong Kong lebih awal dan sejak saat itu sampai sekarang tidak ada kabarnya” lanjut Mujari.

Mujari mengungkapkan, dirinya melarang istrinya kembali ke Hong Kong bukan tanpa alasan. Gaji dia bekerja di Malaysia pada tahun 2004, setiap bulannya menyamai dengan gaji PMI di Hong Kong yang bisa dia kirim pulang lantaran di tempatnya bekerja, Mujari naik jabatan, masuk dalam manajemen perkebunan kelapa sawit.

Praktis, sejak tahun 2004 hingga sekarang, Kasanatun tidak pernah lagi pulang, tidak pernah lagi menghubungi keluarganya di kampung halaman.

“Saya sedih om, jika ibu menuduh bapak tidak bertanggung jawab memberi nafkah ke keluarga, kenyataannya bapak bekerja ke Malaysia, dan hasilnya cukup. Saya tidak tahu kenapa ibu tiba-tiba waktu itu berangkat ke Hong kong. Sebab waktu itu saya masih kecil, mau masuk TK” tutur Rahayu Kurniawati (21), putri semata wayang Mujari dan Kasanatun.

Sebagai anak, Ayuk, sapaan akrab mahasiswi Fakultas Kedokteran sebuah Perguruan Tinggi di kota kota Surakarta mengaku sedih dan prihatin. Lantaran kedua orang tuanya sama-sama pergi meninggalkan kampung halaman, Ayuk yang hidup dalam pengasuhan nenek dan kakeknya sering harus gigit jari melihat perbedaan-perbedaan antara dirinya dengan teman-teman sebayanya.

“Seperti itu selalu menjadi bayangan Om. Teman teman saya bisa bersandar bahagia kepada kedua orang tuanya atau salah satu orang tuanya yang setiap hari bisa ketemu, dan tinggal bersama. Sedangkan Ayuk, hanya bisa berangan-angan saja” tambahnya.

Ayuk menyimpulkan, menjadi anak pekerja migran memiliki dampak psikologis pada kondisi di masa tumbuh kembang. Kehangatan dan kebersamaan menjadi faktor utama pembentuk perhatian yang menurutnya dalam tanda kutip hilang dan tidak bisa diulang.

Ayuk dan Mujari berharap, Kasanatun terketuk hatinya kemudian kembali ke tengah-tengah keluarga.  Berikut petikan pesan mereka :

Rahayu Kurniawati Putri Semata Wayang Kasanatun :

“Assalamualaikum, ibu, ini Ayuk yang dalam foto masa lalu kita, dipangku oleh ibu. Ayuk sekarang sudah besar, alhamdulilah Ayuk diterima kuliah di Fakultas Kedokteran di Solo. Bapak sangat mendukung sekali pilihan Ayuk, bahkan bapak bertekad tidak akan pulang sebelum Ayuk menjadi Dokter nanti.

Ibu, sebagai anak yang tidak tahu menahu permasalahan antara ibu dengan bapak, Ayuk hanya bisa berdoa setiap hari, semoga Allah melembutkan hati kedua orang tua Ayuk, hati bapak dan ibu, agar bapak dan ibu bisa kembali seperti masa kecil Ayuk dulu, hidup bahagia bersama.

Ibu, bapak selama ini merupakan bapak yang bertanggung jawab kepada keluarga. Ayuk harus menyampaikan, bahwa selama ini yang membiayai seluruh kebutuhan Ayuk sampai sekarang menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran adalah bapak. Bapak masih bekerja di perkebunan kelapa sawit di Malaysia. Dan alhamdulilah, penghasilan yang bapak dapatkan diberkahi Allah hingga bisa mengantarkan Ayuk seperti sekarang.

Terimakasih bapak, tanpa teguhnya pendirian bapak, mungkin Ayuk akan kehilangan pegangan. Keteguhan bapak selama ini telah benar-benar membuat Ayuk bisa optimis melihat masa depan, semangat berjuang sebagaimana bapak semangat bekerja untuk memperjuangkan Ayuk.

Mujari Suami Kasanatun :

“Tun, sampai saat ini, aku meyakini kamu masih tetap berada di Hong Kong, sebab ada beberapa tetangga yang menyatakan pernah bertemu kamu di Hong Kong. Hanya saja, aku tidak tahu kenapa kamu tidak mau menghubungi keluarga lagi, bahkan menghubungi kedua orang tuamu sampai mereka telah meninggal dunia kamu juga tidak mau tahu, menghubungi anak yang kamu lahirkanpun kamu juga tidak peduli sama sekali.

Kasanatun, andaikan Ayuk tidak meminta aku untuk mencarimu, jujur, aku sudah tidak ingin mencarimu. Mau pulang atau tidak, aku tidak mau tahu karena kamu sendiri juga tidak mau tahu. Dalam hidupku saat ini, hanya ingin bekerja supaya Ayuk menjadi orang, menjadi sandaran hidupku dunia dan akhirat.

Ayuk hampir setiap berkomunikasi selalu mengingatkan aku agar aku mau memaafkanmu, mau mencarimu. Ketahuilah, beruntung sekali kamu melahirkan Ayuk, anak yang shalihah, tapi sangat disayangkan, kamu justru menjadi jahiliyah setelah tak tinggal pergi ke Malaysia, setelah kamu mengenal kehidupan Hong Kong.

Mendukung keinginan Ayuk, aku berharap, kamu pulang dan mau menemui Ayuk, anak kita. Kalau memang kamu saat ini telah memiliki laki-laki lain, entah statusnya suami atau hanya kumpul kebo saja, tidak apa-apa, bawa saja sekalian supaya semuanya terang benderang. Yang pasti, aku saat ini sama sekali tidak ada niat untuk mencari perempuan baik sebagai gendaan maupun untuk diperistri. Aku lebih memilih membesarkan Ayuk meraih masa depan sesuai dengan cita-cita dan kemampuannya. Semoga Allah membukakan jalanmu untuk pulang.

sumber

Kasanatun, Anak Yang Kamu Terlantarkan Sekarang Menjadi Mahasiswi Kedokteran

Powered by Blogger.
close