loading...

Aku bekerja di Hong Kong sudah memasuki kontrak ketiga dengan majikan yang sama. Karena alasan anak yang kuasuh sudah besar dan akan belajar di luar negeri, aku diminta majikan untuk mencari kerja baru bila masih ingin kerja di Hong Kong.

Pada tahun keempat aku ikut nyonya ini, aku berkenalan dengan seorang pria asli Hong Kong yang sudah beristri. Lalu, kami berhubungan hingga masa kontrakku berakhir. Meski aku tahu dia sudah beristri, hubungan cinta kami makin membara. Bahkan seolah tidak akan terpisah, walau tsunami datang. Dia pun tahu, aku seorang pekerja rumah tangga di sini, sedangkan di rumahnya ada seorang pekerja Filipina.

Semua berjalan biasa. Hingga akhirnya, aku mendapatkan pekerjaan baru dan bertemu dengan nyonya baru yang ternyata…dia adalah istri dari kekasihku. Aku terkejut saat mulai masuk rumahnya. Pacarku pun begitu. ”Kenapa kamu bekerja di sini? Apa tidak ada tempat lain?” tegurnya lewat wasap dengan ikon marah sangat. Aku pun bingung harus bagaimana.

”Kamu tidak bilang kalau tinggal di sini. Aku pun tak tahu rupa istrimu,” balasku menggantung dengan ikon menangis. Hiks.

”Ya, sudahlah. Mungkin ini ujian cinta kita. Atau, mungkin memang jalan cinta kita, Ra. Tapi kamu harus tetap ingat, kita hanya berpacaran. Tidak akan menikah. Awas kalau kamu menagihku untuk bertanggung jawab. Karena rumah ini sering sepi dan pasti membuatku khilaf, lalu melakukan hal-hal yang kamu rindukan,” balasnya dengan ikon lope-lope. Haduh, bisa berabe nich.

Setelah saling dekat, apalagi tinggal serumah, kami memang menjadi semakin mesra. Saat aku sedang memasak, dia sering menggangguku. Memeluk dari belakanglah, tiba-tiba mencium pipi, atau mengunci pintu saat dia ingin berlama-lama mencium bibirku. Ya, nyonyaku biasanya malam baru sampai rumah. Anak-anaknya pun sudah dewasa dan sering pulang malam karena tugas kuliah mereka. Semakin liar saja hubungan kami. Tanpa batas, tanpa sekat.

Pada bulan kedelapan aku bekerja di rumah kekasih, kamarku mulai menjadi saksi betapa beringasnya kami bercinta. Satu kali aman, dua kali, tiga kali, dan menjadi kebiasaan. Rasanya nikmat, apalagi anak dan istrinya tidak pernah menatap curiga. Ah, semakin mudah saja. Meski tanpa ikatan pernikahan, aku rela saja melakukan dengan orang yang kucintai. Toh, pacaran akan semakin indah saat kita saling merekatkan hati dan badan.
[ads-post]
Jomblo tidak akan tahu rasa ini. Apalagi mereka yang memandang hina perbuatanku. Kalau aku sudah ingin taubat, ya pasti aku lakukanlah. Sayang, kalau ada kenikmatan di depan mata tidak disesap saat itu juga. Kesempatan tidak datang dua kali, Mblo. Meski nanti aku pulang kampung sudah tidak gadis lagi, toh tidak ada yang tahu, kan? Aku pasti mudah mendapatkan lelaki untuk aku jadikan suami dengan pesona wajahku yang, kata kekasih eh majikanku, sangat cantik dan natural.

Hong Kong bukan negara pertama aku merantau. Sebelumnya, aku bekerja di Singapura selama empat tahun. Aku pun tergoda untuk pacaran dengan pria-pria kehausan. Walau tidak sampai ke ranjang, aku mendapat untung berlipat-lipat, haha. Perhiasan lengkap, jatah Ibu pun ada yang nanggung.

Itulah hubungan perantau, Mblo. Berakhir saat kontrak kerja usai dan bermula saat kerja mulai di tahap kejenuhan dan kesepian. Hanya pacaran dengan bosku ini saja aku mulai berani tampil centil nan seksi, hingga doi pun tergoda untuk menjamah mahkota kehormatan para wanita. Hmm…

”Aku beruntung dong, Ra… Mendapat kegadisanmu dengan sukarela.” Dia wasap tanda bahagia.

”Iya-lah… Aku juga senang melakukan itu demi kamu, bos-ku.” Balasku dengan ikon lope-lope.

Hari-hari berlalu dengan kerja berpeluh cinta. Kontrak kerja yang dua tahun itu seolah seminggu saja. Ibu di kampung sudah mulai menginginkan aku menyudahi segala petualangan, baik itu pekerjaan maupun kisah asmara. Nyonya masih ingin mempekerjakanku dua atau empat tahun lagi. Ia tak keberatan kalau harus memberikan long service kepadaku. Aku makin bahagia, apalagi kekasihku itu. Namun, aku harus mulai memikirkan masa depan di desa sana. Jadi, aku hanya mengambil dua tahun kerja saja. Ibu senang dengan keputusanku itu. Doa-doa tulusnya menyejukkan hati.

Tepat dua tahun, aku memutuskan hubungan dengan dia dan pamit pulang. Tidak disangka, seminggu sebelum kepulanganku, dia melakukan secara berturut-turut hal-hal yang tidak bisa aku antisipasi. Biasanya kami janjian untuk bercinta dan aku pasti sudah siap dengan tubuh berlapis kondom. Namun, hari-hari itu dia seolah sengaja mendatangiku tanpa memedulikan aku siap atau tidak. Ah, ternyata berhubungan tanpa pelindung itu rasanya lebih nikmat dari biasanya. Aku pun cemas, bilakah nanti aku hamil atau entahlah…

Ya, mungkin ini memang tanda aku harus mengakhiri segala bentuk dosa yang selama ini diingatkan kembali oleh ibuku. Aku pulang dalam keadaan hamil. Ibu dan bosku tidak tahu. Aku pun langsung menerima lamaran tetangga desa yang datang ke rumah. Pernikahan akan dilaksanakan bulan depan. Iyupz…makin cepat makin baik, biar perutku tidak terlihat oleh para tetangga. Kan malu kalau ketahuan hamil tanpa tahu ayah bayi itu.

Semoga pernikahanku nanti berjalan lancar dan aku bisa benar-benar mencintai suami berwajah sejuk itu. Tuhan…hamba memang banyak dosa. Izinkanlah hamba-Mu ini menyulam kembali benang-benang kebaikan dan membesarkan amanah-Mu dengan sebaik-baiknya penjagaan.

Ra De Yuniar

[NAKAL] Majikanku Adalah Kekasihku - Kisah Cinta TKW Hongkong

Powered by Blogger.
close