-----
loading...

====

Berteman

SUARABMI.COM - Penutupan 2 lokalisasi besar di Kabupaten Tulungagung dianggap berpengaruh besar dalam penularan HIV/AIDS di Kabupaten Tulungagung. Pasalnya, pemeriksaan kesehatan penjaja s*ks yang ada di lokalisasi oleh petugas kesehatan dinilai lebih sulit.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua komisi C DPRD Tulungagung, Subani Sirab, Senin (27/1) di gedung Dewan Tulungagung dalam acara Public Hearing Ranperda Pengarusutamaan Gender. "Sehingga obyek sasaran dari dinas kesehatan sudah tidak kuat lagi (terkumpul di satu tempat)," jelasnya.

Sebelum lokalisasi dibubarkan oleh pemerintah pada tahun 2012 lalu, setiap Minggu dilakukan pemeriksaan kesehatan sekitar dua kali oleh Dinas Kesehatan. "Dulu seminggu dua kali bisa dikontrol oleh Dinas Kesehatan, namun setelah di tutup penjaja s*ks akan semburat kemana-mana," jelasnya.
[ads-post]
Pria paruh baya itu mengaku, berdasarkan pribadinya menyayangkan dengan adanya penutupan tempat lokalisasi. Sebab, tidak memberi solusi bagai mana PSK terakomodir. "Karena bagaimanapun dari nenek moyang, sejarah PSK itu tetap ada," ujarnya.
Dari data yang dimiliki olehnya, sebelum lokalisasi ditutup, jumlah pengidap HIV/AIDS sekitar 500 an. Saat ini pengidap HIV/AIDS sudah mencapai ribuan.

"Sekarang saja perempuan 1.038, ibu rumah tangga 541, laki-laki 1.282, penjajah s*ks 259, waria 28, maka ini implikasi setelah kompleks (lokalisasi) di bubarkan," ungkapnya.

Dirinya mengusulkan agar lokalisasi dibuka lagi, namun diwilayah pinggiran kota dan dengan pengawasan ketat dari Pemkab setempat.

Sementara itu Ketua Komisi Pemberantasan AIDS Tulungagung, Ifada Nurohmaniah mengatakan, pembukaan kembali lokalisasi bisa mempermudah pekerjaan Pemkab untuk memantau penularan HIV/AIDS. "Saya senang bisa menstimulus dalam forum tadi, ya jadinya bisa berfikir, dulu terlokalisir, sekarang semrawut," ungkapnya.

Waspada...! Ribuan Warga Tulungagung Terinfeksi HIV/AIDS, Ketua Komisi C Wacanakan Pembukaan Lokalisasi

Diberdayakan oleh Blogger.
close