loading...

SUARABMI.COM - Gara - gara membeli sim card saat liburan yang dijajakan di jalanan oleh orang Vietnam, seorang TKW berinisial ST asal Ponorogo harus berurusan dengan pengadilan.

Kejadian ini bermula ketika ST membeli simcard saat liburan ke Taoyuan pada awal Maret tahun lalu. Ia membeli simcard dari seorang pekerja migran asal Vietnam yang berjualan di depan stasiun kereta api Taoyuan.

Namun, selang beberapa bulan kemudian, tiba-tiba ia menerima pemberitahuan dari kepolisian telah menerima kiriman barang dan disuruh datang ke kantor polisi.
[post_ads]
Tentu saja ST terkejut, apalagi setelah mengetahui kalau barang kiriman tersebut berupa obat-obatan pertanian mengandung racun yang pengirimnya dari Cina. Ia tidak pernah merasa meminta kiriman apa pun dan dari siapa pun, bahkan tidak pernah kenal orang dari Cina.

Setelah melihat barang kiriman tersebut, kepada polisi ST mengatakan kalau tidak mengenal sama sekali siapa pengirimnya dan balik bertanya, kenapa ia yang harus dipanggil. 

"Lebih terkejut lagi setelah polisi mengatakan kepada saya, bahwa setelah dicek, nomor cellphone yang tertera pada bungkus kiriman barang itu adalah atas nama saya," kenang ST.

Sejak saat itulah ST yang bekerja sebagai perawat pasien di daerah Chiayi harus bolak balik ke kantor polisi Taoyuan untuk diinterograsi. 

Awal Februari 2019, ST mencoba mengadukan masalahnya kepada relawan BMI di Taiwan. Ia meminta bantuan supaya dicarikan pengacara yang bisa mendampinginya agar bisa terbebas dari tuduhan penyelundupan obat-obatan.

Sebagai seorang pekerja migran yang tidak mengenal hukum sama sekali, ST merasa ketakutan jika harus bolak balik ke pengadilan tanpa ada yang mendampingi selain agensinya. 

Melalui relawan tersebut, ST diperkenalkan dengan pengacara dari TCESIA Taoyuan. Mulai sidang bulan Maret lalu, ia didampingi oleh pengacara tersebut.
[post_ads_2]
Kemarin, Senin (29/4) ST harus mendatangi panggilan persidangan, entah sudah yang ke berapa kali. Akan tetapi, kali ini ia merasa tenang karena sudah ada pengacara yang mendampinginya. 

Pertanyaan hakim yang diulang-ulang sempat membuatnya gugup, tetapi beberapa bukti menunjukkan bahwa ST tidak bersalah. Ia hanya korban karena dokumennya disalahgunakan orang lain.

"Begitu masuk ruang sidang saya merasa deg-degan, apalagi hakim terus menanyai saya dengan pertanyaan yang sama, diulang-ulang terus," ungkapnya.

ST merasa lega dan bahagia sekali setelah mendengar keputusan pengadilan yang menyatakan ia bebas. Tidak henti-hentinya ST mengucapkan syukur juga berterima kasih pada TCESIA yang telah membantunya.

"Alhamdulillah, sudah clear. Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada TCESIA. Sekarang saya sudah plong, terasa ringan tanpa beban lagi," jelas ST.

Gara - Gara Beli Sim Card Saat Liburan yang Dijajakan Orang Vietnam, TKI Asal Ponorogo di Taiwan Ini Harus Masuk Pengadilan

Diberdayakan oleh Blogger.
close
Banner iklan disini