loading...

Ilustrasi
"Mas Anang, aku akan berangkat sebentar lagi. Jadi TKW di Singapura," kataku ketika kami duduk di taman kota. Tanganku gemetar saat meletakkan rantang berisi lodeh jantung pisang kesukaan suamiku ini. Tadi aku memasaknya di penampungan sebelum berangkat ke mari.

Tak mendapat jawaban, aku melirik Mas Anang. Ekspresinya tidak menunjukkan kehilangan sama sekali. Berbeda dengan kebanyakan pria yang akan melarang mati-matian istrinya mengadu nasib di negeri orang. Dia tidak pernah berubah. Sudah enam tahun menikah, tapi hubungan kami masih seperti minyak di permukaan air. Terombang-ambing.

Pusat masalahnya, Mas Anang tidak mau tinggal selain di rumah peninggalan orang tuanya. Awal-awal menikah aku ikuti saja maunya. Di mana pun asal ada Mas Anang kupikir aku akan bahagia.

Namun, ketika tahu air di desanya keruh, aliran listrik terbatas, dan jalanan berbatu, perlahan aku mulai mengeluh. Belum lagi tentang kebiasaan orang di kampungnya yang sedikit-sedikit mengadakan selamatan. Misalnya, karena kejatuhan cicak yang diyakini pertanda akan datangnya musibah atau bermimpi hanyut di sungai yang juga dianggap pertanda buruk. Setiap bulan para tetangga juga memperingati hari lahir kepala keluarga yang dihitung berdasar kalender Jawa dan harus menjamu orang satu RT.

Kalau ekonomi kami cukup, tidak masalah bagiku mengikuti tradisi itu. Namun, Mas Anang hanya tukang servis mesin jahit yang belum tentu setiap hari dibutuhkan. Memang, selamatan-selamatan seperti itu tidak diwajibkan, tapi bibi Mas Anang yang tinggal di sebelah rumah pasti akan menggunjing kami entek amek kurang golek jika tidak mengikuti kebiasaan mereka. Dia selalu menuduh aku -- yang berasal dari kota -- malas masak. Padahal jelas bukan itu perkaranya.

Aku pernah menuntut Mas Anang untuk bekerja sebagai kuli bangunan seperti pria-pria lain agar ekonomi kami membaik dan gunjingan bibinya mereda, tapi suamiku malah menjawab, "Aku ndak kuat, Ji, kalau harus mengaduk semen dan pasir. Dari dulu aku sudah bilang bisaku kerja, ya, gini-gini aja."

Sudah. Aku diam tidak ingin membantah atau perasaanku akan terganggu sepanjang hari karena bertengkar dengan Mas Anang. Dengan sabar aku tetap menekuni menjahit baju-baju yang kuambil dari pengepul. Itu pun harus ke kota menghabiskan bensin berliter-liter. Sedang upahnya belum tentu cukup untuk makan kami berdua. Sementara masih ada tanggungan listrik dan tetek bengek yang lain.

Merasa lelah dengan semua itu, aku membujuk Mas Anang untuk tinggal di rumah ibu. Sementara saja sambil menemani ibu yang tinggal seorang diri. Cuma alibi, sebenarnya maksudku agar kebutuhan pokok kami dibantu ibu. Namun, Mas Anang menolak. Alasannya masih sama, tidak bisa tidur kalau tidak di rumahnya.

Sedikit memberi pelajaran aku berangkat ke rumah ibu tanpanya. Satu minggu berlalu Mas Anang tidak juga menjemput atau sekedar ingin tahu kabarku. Minggu kedua aku menunggunya, masih juga bergeming. Kecewa, marah, dan ambisi bergumul dalam diri. Akhirnya, aku memutuskan menetap lebih lama di rumah ibu. Setengah berharap, jauh dariku pendirian Mas Anang berubah. Sadar akan tanggung jawabnya sebagai suami.
[post_ads]
Aku pun bekerja di tempat karaoke. Berangkat tengah hari dan pulang hampir tengah malam. Bukan tidak ada tempat lain yang mau menerima, melainkan tempat karaoke itu berani menggaji dua juta per bulan. Sulitnya mencari orang yang mau jadi pelayan di sana membuat pemiliknya berani membayar tinggi. Aku sudah bersuami, juga bukan ABG lagi. Para pria yang singgah tidak mungkin tertarik padaku. Itu sebabnya aku mau saja kerja di situ.

Suatu sore di hari libur, aku mengunjungi Mas Anang dan memberi tahu di mana aku kerja sekarang. Ternyata Mas Anang tidak terlihat keberatan barang seujung kuku. Malah dia minta dibelikan mesin poles batu akik seharga lima juta. Dia bilang temannya yang punya mesin serupa itu untung besar karena orang-orang tengah menggilai batu akik.

Dua bulan berikutnya aku membelikan mesin itu, menganggapnya langkah awal perubahan Mas Anang. Namun, tak seindah khayalan, usaha Mas Anang tidak membuahkan hasil karena pamor batu akik sudah menurun.

Pun begitu aku masih mempertahankan hubungan kami. Satu sampai dua kali dalam seminggu aku mengunjunginya, meski tidak pernah menginap. Berharap Mas Anang tidak tahan dan menyusulku. Namun, sampai lewat satu tahun Mas Anang tetap tidak mau menginjakkan kaki di rumah ibu.

Masalah baru malah muncul. Di tengah hubungan yang semrawut itu, Tuhan menitipkan janin di rahimku. Aku tentu sangat bahagia, walau rasa khawatir muncul karena tidak ada yang membantu mencari nafkah. Nanti kalau aku sibuk mengurus anak siapa yang akan memberi makan kami?

Ketika kukabarkan itu pada Mas Anang, dia malah membelikan seikat nanas hijau. Konon, nanas mentah bisa menggugurkan kandungan. Mas Anang bilang dia belum siap punya anak. Tentu saja aku shock. Kok ada laki-laki seperti itu.

Kekesalanku pada Mas Anang memuncak ketika ibu terserang hipertensi dan harus dirawat di rumah sakit. Aku memintanya membantu merawat ibu karena waktu itu kandunganku belum genap tiga bulan. Harus berhati-hati atau sesuatu yang buruk akan terjadi.

"Puji, aku tidak mau! Itu cuma trikmu supaya perlahan aku luluh dan mau tinggal sama kamu di rumah ibu." Begitu jawab Mas Anang.

Sekali lagi aku mengelus dada. Yakin, akan kuat menunggui ibu seorang sendiri. Pontang-panting kesana-kemari, kurang tidur, dan kurang makan membuat kedua pinggang ini seolah ditusuki ribuan paku. Ditambah sariawan kira-kira selebar dua senti yang berada di dua titik. Aku benar-benar kesakitan. Hari kesepuluh menunggu ibu, aku keguguran. Mas Anang tetap dengan sikap cuek bebeknya.

Tidak cukup sampai di situ, beberapa hari setelah itu ibu menghembuskan nafas terakhir. Malangnya, Mas Anang tidak datang sama sekali ke pemakaman ibu. Ketika kutelpon dia menjawab, "Nanti sama tetangga-tetanggamu aku dipaksa tidur di sana biar rumah itu nggak sepi. Aku ndak mau!" Saat itulah muncul kenekatan untuk mengakhiri saja pernikahan kami.

Namun, menggugat cerai butuh biaya, sementara aku tidak punya uang. Hasil kerja selama ini sudah habis untuk bayar rumah sakit ibu. Memang ibu meninggalkan sepetak tanah di samping rumah, tapi mumpung aku masih kuat daripada menjual tanah itu lebih baik menjual tenaga. Memilih menjadi TKW karena selain gajinya besar aku juga ingin melihat luar negeri.

***

Hampir tiga puluh menit aku menunggu jawaban, Mas Anang masih bergeming, aku pun buka suara lagi, "Mas, aku ini masih istri kamu. Istri sah, bukan orang lain. Kamu tanya kabar, kasih makan, atau apalah kok ndak sama sekali. Aku setiap malam di rumah ibu diteror sama laki-laki. Napsu banget pingin niduri aku." Aku mengambil napas sejenak. Kalimat terakhir itu bohong belaka untuk mengetahui seberapa peduli dia padaku.

Lalu kulanjutkan, "Kalau kamu ndak bisa tidur di rumah ibu, siang hari kita di sana, malamnya kita balik ke rumahmu. Gitu aja, Mas. Kalau perlu sebagian warisan ibu kuganti atas namamu. Kalau kamu setuju tunggu aku dua tahun lagi."

Ini sudah ketiga kali aku mengatakan demikian sejak ibu meninggal.

"Ogah." Cuma begitu jawab Mas Anang yang membuatku semakin yakin memberikan lodeh jantung pisang itu.

"Baiklah, kalau memang kamu sudah tidak bisa diajak damai, sementara aku juga sudah tidak tahan seperti ini. Suatu saat kalau ada surat panggilan dari pengadilan kamu jangan mempersulit. Supaya proses cerainya lebih cepat." Aku langsung bangkit.

"Tidak bisa. Kamu istriku, selamanya begitu."

Itu kalimat yang terakhir kudengar dari Mas Anang sebelum aku meninggalkan taman dengan berang. Rombongan dari penampungan sudah menunggu di seberang jalan. Sore ini juga aku akan terbang ke Singapura.

Sebenarnya aku deg-degan. Kapan kira-kira Mas Anang akan memakan sayur lodeh yang tadi kubawakan? Semoga saja dimakan nanti malam ketika aku sudah tiba di Singapura. Semoga Mas Anang tidak menyadari adanya pecahan lampu pendar yang kuaduk bersama jantung pisang itu.

Selesai

#MienHessel

Suamiku Edan Hingga Aku Jadi TKW

Powered by Blogger.
close