loading...

SUARABMI.COM - Selama dua bulan menahan sakit akibat infeksi payudara, pekerja migran Indonesia Alin (nama samaran) akhirnya oleh agen dibawa ke rumah sakit Chang Gung Linkou untuk menjalani perawatan lanjutan.

Alin yang bekerja sebagai perawat Ama di daerah Mucha Taipei City, sehari-harinya harus mengangkat dan menurunkan ama untuk diajak jalan-jalan. Entah karena gesekan atau tekanan pada bagian payudaranya saat mengangkat ama, ia juga tidak tahu apa penyebabnya sehingga ia mengalami luka pada bagian payudaranya.
[post_ads]
Menurut keterangan petugas TCESIA (31/5/2019), Louise Hwang, awalnya Alin tidak berani menceritakan penyakitnya kepada agen, hanya mengeluh kepada kakaknya. Akan tetapi lama kelamaan penyakitanya tambah parah dan terpaksa memberitahu agen, Alin dibawa ke rumah sakit terdekat untuk melakukan pemeriksaan dan penyedotan di bagian yang terkena infeksi. 

“Selama dua bulan Alin bolak balik ke rumah sakit akan tetapi kondisi penyakitnya tidak sembuh juga. Bahkan lukanya makin lama makin membesar, merambah ke area sekitar payudara. Alin hidup di ambang kehancuran, ia tertekan dan curiga telah terkena sakit kanker payudara yang parah,” jelas Louise Hwang.

Kakaknya meminta bantuan ke agen supaya Alin segera dibawa ke rumah sakit. Akhirnya Alin dibawa RS. Chang Gung, Linkou pada Senin(27/5/2019). Menurut kabar, kemungkinan akan dilakukan operasi pemotongan bagian payudara yang sudah terkena infeksi. Bagi Alin dan kakaknya, mendengar hal tersebut serasa dunia ini telah berakhir.
[post_ads_2]
Sementara itu, kepala asosiasi TCESIA Hwang Yu-jie(黃杲傑) hari ini (Jumat, 31/5/2019 red.,) datang menjenguk Alin dan memberikan santunan. Hwang Yu-jia juga menyempatkan diri menemui suster untuk mencoba menanyakan penyakit yang diderita Alin, akan tetapi suster tidak memberikan jawaban. Hwang Yu-jia bertanya kepada Alin, namun ia menjawab kalau dokter mengatakan besok sudah boleh keluar dari rumah sakit.

Lanjut Hwang Yu-jie, kasus seperti Alin adalah salah satu contoh kasus yang masih hidup. Setelah kejadian ini, pihak asosiasi akan mengirim surat ke Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan untuk meminta supaya diadakan dialog terbuka. Jika tidak, agen tidak akan memiliki informasi yang cukup untuk membantu pekerja migran yang sakit parah, agen seringkali dicurigai tidak bertanggung jawab terhadap pekerja migran yang sakit parah. Selain itu pihak asosiasi tidak bisa membuat perencanaan anggaran jika pekerja migran haru menjalani operasi di kemudian hari. Sikap konservatif dari pihak rumah sakit, merupakan pelanggaran hak azasi terhadap pekerja migran yang tidak bersalah.

liputanbmi

Tahan Sakit Infeksi Payudara Selama Dua Bulan, PMI Ini Akhirnya Dibawa ke RS

Diberdayakan oleh Blogger.
close
Banner iklan disini