loading...

SUARABMI.COM  - Mulai tahun ini tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Banyuwangi dan sekitarnya bisa mudik langsung dengan penerbangan dari Kuala Lumpur – Bandara Banyuwangi. Ini karena secara perlahan, pengembang bandara yaitu PT Angkasa Pura II (AP II) mulai membuka bandara tersebut sebagai bandara internasional.

Nanang Qosim (42) TKI Malaysia asal Banyuwangi mengaku mudik kali ini lebih cepat karena tidak perlu perjalanan darat Surabaya – Banyuwangi atau Denpasar – Banyuwangi. Tahun lalu saat turun pesawat di Surabaya atau Denpasar, dirinya harus melanjutkan perjalanan darat 5 atau 6 jam baru sampai Banyuwangi.
[post_ads]
Namun dia berharap pelayanan terminal internasional Bandara Banyuwangi ditingkatkan agar penumpang tidak terlalu lama antri, dan antrian lebih tertib. Pasalnya pada puncak mudik penerbangan internasional Bandara Banyuwangi, Minggu, 2 Juni 2019, itu tercatat 177 orang penumpang masuk dalam manifes penerbangan.

“Seharusnya ada lorong khusus biar bisa teratur semua saat mau masuk ruang imigrasi, ini tadi rebutan, saya antri nunggu 1 jam,” kata Nanang setelah keluar dari terminal internasional.

Terminal internasional Bandara Banyuwangi memang masih dalam tahap pengajuan anggaran ke induk PT Angkasa Pura II (AP II) sebagai operator bandara. Sementara terminal internasional yang sekarang beroperasi merupakan ruang VIP yang disulap hingga bisa melayani Custom, Immigration, Quarentine (CIQ).

Manajer Operasi Teknik AP II Bandara Banyuwangi Suparman mengatakan penumpang masa mudik lebaran memang tinggi. Minggu sebelumnya pihaknya juga melayani 106 penumpang. Penerbangan internasional dengan maskapai Citilink itu memiliki jadwal seminggu sekali.

Suparman mengaku berupaya mempercepat proses pemeriksaan penumpang dengan membantu mengangkatkan barang mereka ke luar ruangan. Pemeriksaan penumpang rata-rata membutuhkan waktu 2 atau 3 menit, bisa bertambah menjadi 5 menit bila ada kecurigaan pada penumpang atau barang yang mereka bawa.
[post_ads_2]
“Hari ini puncak penerbangan internasional. Barang bawaan penumpang besar dan banyak, jumlahnya 200 PCS bagasi,”

Selain fasilitas terminal internasional yang belum memadai untuk menangani ratusan penumpang, bawaan penumpang yang besar dan banyak juga menambah waktu pemeriksaan bagasi. Sementara puncak arus balik penerbangan internasional Bandara Banyuwangi terjadi pada H+10, Minggu 16 Juni 2019, dengan 155 penumpang kembali ke Malaysia.

Yusuf (35) warga Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, mengaku lebih senang menjemput ayahnya di Bandara Banyuwangi daripada di Bandara Internasional Juanda, Suarabaya. Menjemput ke Bandara Banyuwangi membutuhkan biaya Rp 500 ribu, yang lebih murah daripada ke Surabaya yang membutuhkan dana Rp 1,5 juta.

“Ada penerbangan internasional ke Banyuwangi membantu sekali, lebih hemat tenaga, uang dan waktu. Saya tidak harus minta izin libur ngajar di sekolah,” kata Yusuf. | suara

Bandara Banyuwangi Perlahan Buka Penerbangan Internasional, TKI Bisa Langsung Turun Banyuwangi

Diberdayakan oleh Blogger.
close
Banner iklan disini