-----
loading...

====

Berteman

SUARABMI.COM - “Nama ibu saya Wiji Astuti. Kalau nama bapak saya, saya tidak tahu, tapi kata almarhumah nenek, bapak saya orang Nepal. Makanya nama saya Muhammad Farin Khumar” tutur Farid, bocah berusia 9 tahun.

Farid merupakan bocah yang kurang beruntung lantaran diterlantarkan oleh ibunya yang menjadi pekerja migran Indonesia di Hong Kong. Kelahiran Farid yang diluar perkawinan, awalnya menjadi pukulan mental hebat pada kedua orang tuanya di Desa Bajang Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk Jawa Timur sembilan tahun silam.

Pasalnya, sebagai orang yang meyakini dan hidup mengikuti tuntunan sebagaimana yang diajarkan oleh Muhammad SAW, yang terjadi dan dilakukan oleh Wiji merupakan perbuatan yang melanggar aturan, hamil diluar pernikahan. Kepada keluarganya, Wiji mengaku hamil dengan pria Nepal.

Belum genap tiga bulan usia Farid lahir di dunia ini, Wiji menitipkan Farid ke pengasuhan ibunya kemudian Wiji berpamitan kembali bekerja ke Hong Kong. Namun sejak saat itu hingga saat berita ini diturunkan, tak pernah sekalipun Wiji berkirim kabar, apalagi berkirim uang untuk menghidupi Farid anak laki-laki yang dia lahirkan.

Bahkan, saat ibunda Wiji meninggal dunia tiga tahun silam, tak pula Wiji datang menampakkan batang hidungnya menjenguk ke pemakaman. Ironisnya, sejak kepergian ibunda Wiji menghadap Illahi, Farid hidup sebatangkara di rumah neneknya yang tak jauh dari hutan jati.

Hingga berusia 9 tahun, Farid tidak pernah mengenyam pendidikan. Farid setiap hari berkeliling melakukan apa saja agar mendapatkan makanan. Badannya lusuh, kurus, kulitnya legam terbakar matahari. Kondisi tersebut kontras sekali dengan gaya hidup Wiji, ibunda Farid yang menjadi PMI Hong Kong yang dapat dilihat melalui foto-fotonya.

Di Hong Kong Wiji berpenampilan bak selebriti, hampir keseluruhan foto-fotonya berlatarkan tempat hiburan ajib-ajib Wanchai, baju-bajunya bermerk dengan harga mahal, dikelilingi pria-pria berbagai etnis yang membuat ekspresi wajah Wiji dalam fotonya terlihat bangga bak menjadi Ratu Sejagad.

Beruntung, nasib Farid yang nyaris menjadi anak jalanan ditemukan Hamba Allah yang tidak bersedia disebutkan namanya. Hamba Allah (Identitas ada di redaksi) tersebut mengaku tersentuh begitu melihat kondisi Farid yang meminta-minta dalam kondisi badannya sedang demam tinggi.

“Yang paling saya ingat, dia minta uang ke saya untuk beli makan pas saya menempuh perjalanan pulang dari Bojonegoro. Kemudian sorot matanya merah tampak tidak sehat, badannya menggigil, bajunya compang camping. Terus saya tanya latar belakang dia itu siapa sembari saya ajak makan makanan yang sama seperti yang sedang saya dan suami saya makan” aku Hamba Allah tersebut.

“Begitu mendengar pengakuan dia, saya nangis mas, tidak tega. Ya Allah… doa apa anak ini sampai nasibnya begini. Kemudian saya bawa berobat, terus opname di rumah sakit selama 3 hari karena ternyata demamnya itu karena serangan typhus” lanjutnya.

Saat Farid dirawat, suami Hamba Allah tersebut berusaha melacak alamat asal sesuai dengan petunjuk Farid. Meskipun menemukan, namun di rumah tersebut, suami Hamba Allah asal Kota Nganjuk ini tidak menemukan siapa-siapa.
[ads-post]
Dengan didampingi ketua RT dan tetangga, suami Hamba Allah tersebut kemudian berusaha mencari dokumen tentang Farid, dan akhirnya menemukan selembar Akte kelahiran, selembar kartu keluarga serta sebuah album foto yang isinya foto-foto Wiji di Hong Kong.

Dengan kesepakatan dan ijin dari lingkungan asal Farid, akhirnya Hamba Allah tersebut dipermudah niat mulianya untuk mengasuh Farid lalu menyekolahkan setelah sampai di usianya yang sudah sembilan tahun, Farid belum pernah sama sekali masuk bangku sekolah.

“Alhamdulilah, kini Farid tinggal bersama saya, saya anggap anak saya sendiri, sebab keberadaan dia juga titipan Allah, dan Insyaallah akan selalu saya jaga sebagaimana saya menjaga ketiga anak saya yang lainnya” aku suami Hamba Allah.

Bukan berharap mendapat kiriman uang dari Wiji, namun pasangan suami istri yang kini mengasuh Farid dan memperlakukan sebagai anak kandung mereka sendiri tersebut berharap kemunculan Wiji agar tidak memutus nasab.

“Saya berharap, mbak Wiji yang terakhir kali diketahui berada di Hong kong berkenan untuk menghubungi kami agar Farid bisa berkomunikasi dengan mbak Wiji. Jangan sia-siakan anak mbak, Farid terlahir kedunia ini merupakan amanah Allah yang harus mbak Wiji jaga, bukan disia-siakan begini” imbuh suami Hamba Allah.

Farid mengaku senang tinggal dan menjadi bagian dari keluarga tersebut lantaran dia merasa diperlakukan sangat baik.

“Abi *** sangat baik ke saya. Umi *** juga. Dulu kalau makan saya disuapi. Saya tidak pernah disuapi setelah nenek meninggal. Saya sebentar lagi akan disunatkan. Saya disini sekolah. Di rumah kalau saya pas tidak ada PR dan sudah selesai ngaji, saya bantu jaga toko seperti sekarang ini. Disini saya juga dikasih celengan. Yang satu untuk celengan persediaan masa depan saya kata abi dan umi, yang satu celengan untuk infaq” aku Farid dengan polosnya.

“Saya ingin ibu mau pulang, tidak pergi lagi. Saya ingin ibu juga tinggal disini, bukan di Ngluyu lagi. Sebab di Ngluyu banyak orang jahat yang mengolok olok Farid anak hitam anak haram” tutur Farid diantara linangan air matanya.

Farid menitipkan sederet pesan kepada Wiji Astuti sang ibunda. Berikut kutipannya :

“Assalamualaikum, Ibu. Ibu dimana sekarang ? Ibu Sholat terus kan setiap hari ? Nenek sudah meninggal Bu. Dan waktu nenek meninggal, Farid tidak ikut menyolatkan karena Farid waktu itu belum bisa Sholat.

Ibu, kapan Ibu Pulang ? Farid ingin melihat dan dipeluk Ibu …

Farid takut pulang ke Ngluyu Bu. Kata orang-orang disana, Farid ini anak hitam, anak haram, anak zina. Katanya anak haram, anak zina itu anak yang tidak punya bapak ya bu ? … [kalimat Farid terpotong oleh isak tangisnya]

Ibu, oleh abi dan umi, Farid diajari nabung untuk masa depan setiap hari dan nabung untuk infaq. Setiap hari Farid diajak sholat berjamaah dengan tiga kakak Farid. Kata Abi dan umi, mereka itu kakak Farid semua.

Ibu, kenapa baju ibu tidak sama seperti bajunya Umi disini ?
Bajunya ibu kelihatan udel (puser)nya, kelihatan lekeknya (ketiak) sedangkan bajunya Umi tidak ada yang kelihatan dan sopan.

Ibu, Farid janji akan nabung agar nanti hasilnya bisa untuk membelikan ibu baju seperti bajunya Umi. Farid tidak berani menunjukkan fotonya ibu karena katanya tetangga dan teman-teman Farid di Ngluyu, bajunya ibu itu nakal. Farid kepingin ibu pake baju yang tidak nakal. Tunggu ya Bu, Farid nabung dulu nanti kalau sudah cukup uangnya, Farid belikan ibu baju yang tidak nakal, seperti bajunya umi dan mbak Bila.

Ibu pulang ya bu, Bapak diajak, supaya Farid tidak terus terusan disebut anak zina yang tidak punya bapak. Farid kangen Ibu, … “

Besar harapan pasangan suami istri Hamba Allah maupun Farid kepada semuanya agar membantu mempertemukan Farid dengan ibunya Wiji Astuti. Jika ada pembaca yang mengetahui, dimohon bantuannya agar memberitahukan kepada yang bersangkutan. Jika memerlukan alamat Farid serta siapa jatidiri Hamba Allah yang menjadi orang tua angkat Farid saat ini, Nama, Alamat serta Nomor HP ada pada redaksi.

apakabaronline

Di Hong Kong Dandanan Ibu Layaknya Selebriti, Di Kampung Farid yang Sebatang Kara Hidup Mencari Makan Sendiri

Diberdayakan oleh Blogger.
close