loading...

SUARABMI.COM - Warga Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Sumiati (36) terancam mengalami buta permanen setelah mengalami penganiayaan oleh majikannya saat bekerja di Malaysia. 

Tak hanya itu, tubuh perempuan yang tinggal di Desa Sungai Kelambu ini penuh dengan luka termasuk luka bakar.

Saat ditemui di kediamannya belum lama ini, Sumiati menceritakan dirinya berangkat ke Malaysia pada 2010.

Dirinya berangkat bersama seorang penyalur tenaga kerja. Ketika itu dirinya dijanjikan mendapat upah perbulannya sebesar RM 600.

Bukannya mendapat upah yang layak, Sumiati yang bekerja selama sembilan tahun dengan majikannya mengalami perlakuan yang tidak mengenakkan.

Dirinya mengalami kekerasan secara fisik. Sumiati sering dipukul oleh majikan di sekujur tubuhnya. Punggung Sumiati bahkan terluka parah setelah mengalami penganiayaan oleh sang majikan.

Bagian kepala Sumiati juga tak luput dari pukulan sang majikan. Hal tersebut bahkan sampai membuat penglihatan Sumiati terganggu. Majikan Sumiati kerap menganiayanya menggunakan kayu hingga setrika.

"Ga ada gaji, pernah dipukul, pakai kayu, pakai tangan, disetrika," beber Sumiati, dilansir dari laman Youtube Kompas TV.
[ads-post]
Sudah jatuh tertimpa tangga, Sumiati juga tak mendapatkan gaji selama bekerja dengan sang majikan. Sumiati yang kesulitan melihat pun akhirnya dipulangkan oleh sang majikan.

Parahnya, Sumiati dalam kondisi sakit, pulang hanya menggunakan transportasi umum tanpa ditemani sang majikan. Sumiati hanya dibawa ke perbatasan Entikong - Sanggau.

Sang majikan kemudian menitipkan Sumiati kepada pihak bus dan membekalinya dengan beberapa lembar uang Rp 2000.

Tak berhenti di situ, majikan Sumiati juga menyita paspor miliknya. Majikannya mengantar ke perbatasan entikong, seluruh dokumen sumiati tidak diserahkan oleh majikannya.

Ajaibnya Sumiati berhasil lewat pintu perbatasan. “Sudah dua bulan dibalikkan, dihantar ke Entikong kemudian dinaikkan ke bis,” katanya.

Bis rute Entikong-Sambas kemudian menurunkan Sumiati di Desa Mensere Kecamatan Tebas. Ojek pangkalan yang mengenalinya kemudian menghantarnya pulang kerumah.

Hanya sebuah tas besar berisikan pakaian sebagian tidak layak pakai menemani perjalanan pulang Sumiati.

Hampir dua bulan di rumah, kisah Sumiati nyaris tidak terangkat ke permukaan, karena keterbatasan keluarga.

Kisahnya mulai terungkap ketika pihak keluarga mencoba membawa Sumiati mengecek kesehatan matanya ke RSUD Pemangkat. “Kata dokter matanya harus secepatnya dioperasi,” kata Najimah, kerabat Sumiati.

Direktur Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Perempuan dan Keluarga (LKBH PeKa) Rosita Nengsih yang menjenguk Sumiati, menuturkan dirinya akan mengawal kasus yang diawali oleh Sumiati.

“Setidaknya dimulai dari pembawanya bekerja, bagaimana pertanggungjawabannya saat Sumiati disana,” kata Rosita.

Rosita mengatakan dirinya akan mencoba mengakses sejumlah pihak terkait untuk mengusahakan agar hak-hak Sumiati berupa gaji dapat dibayarkan oleh majikannya.

“Sangat disayangkan sekali perlakuan yang didapat Sumiati, dengan kondisi tubuh yang banyak bekas luka sama mata nyaris buta, ia tidak mendapatkan hak-haknya,” katanya geram.

TKW Korban Penganiayaan Majikan, Ia Disetrika hingga Terancam Buta Permanen, Begini Kisahnya

Powered by Blogger.
close