-----
loading...

====

Berteman

SUARABMI.COM - S (34) merupakan pekerja migran Indonesia di Hong Kong yang nasibnya kurang beruntung. Pasalnya, seminggu yang lalu, tiba-tiba pulang didampingi oleh sesama PMI yang kebetulan terbang bersamaan dan sama-sama berasal dari Nganjuk Jawa Timur.

Ditemukan oleh Ningsih, PMI Hong Kong asal Baron Nganjuk, kondisi S labil jiwanya. Setelah turun dari pesawat, Ningsih yang curiga berusaha menjaga S agar tidak sampai terjadi sesuatu yang membahayakan keselamatannya.

“Saya paham kalau mbak S ini terganggu jiwanya ya sejak di pesawat. Karena sempat ngobrol dan sempat saya tanya-tanya kalau asalnya Nganjuk, dan kebetulan duduknya bersebelahan dengan saya, akhirnya sampai Juanda, saya beritahu keluarga saya yang menjemput untuk mengantarkan mbak S dulu. Keluarga saya juga saya kasih tahu kondisi mbak S. Karena itu mereka tidak keberatan dan langsung membawa mbak S pulang ke Nganjuk dalam mobil kami” jelas Ningsih.

S tidak mau mengenakan pakaian, tel4njang bulat mondar mandir dibelakang rumah dibawah rerimbunan pohon jati yang daunnya sedang meranggas karena musim kemarau. Sesekali S tertawa sendiri, sesekali pula berubah menjadi tangis histeris.

Keluarga dan beberapa kerabat S tidak bisa memberi penjelasan terkait dengan sebab, mereka hanya bisa menunjukkan kondisi mantan PMI yang pernah sepuluh tahun lamanya bekerja di Hong Kong tersebut.
[ads-post]
“Dua tahun terakhir itu komunikasinya susah mas. Kalau sebelumnya hampir setiap hari nelpon, bahkan malah dalam sehari bisa berkali-kali, dua tahun terakhir seminggu sekali nelpon itu sudah bagus. Malah sampai beberapa bulan tidak pernah nelpon” terang Misiyem.

“Kira-kira dua minggu sebelum pulang, Sri pernah nelpon ke pakleknya sambil ketawa-ketawa kalau dia mau naik haji minggu depan. Setelah itu diputus telponnya” lanjut Misiyem.

S merupakan janda meninggal yang memiliki satu anak. Saat ini anak S telah duduk di bangku kelas 6 SD.

“Sakniki kadhos ngaten mas, maleh ditato awake. Niku enten nggen susune, enten pundake kaleh nggen nginggil wadhonane (sekarang seperti ini mas keadaannya. Badannya ditato, itu seperti yang kelihatan di payudaranya, di pundaknya dan diatas alat kelaminnya bagian atas)” keluh Misiyem penuh kesedihan.

Langkah yang telah dilakukan keluarga S selama dua pekan S berada di rumah adalah dengan memeriksakan ke petugas kesehatan. Keluarga yang sebelumnya khawatir S dalam kondisi hamil, ternyata kekhawatiran mereka tertepis dengan hasil pemeriksaan petugas yang menyatakan bahwa S tidak sedang hamil.

“Rencananya hari Jumat (04/10/2019) kami bawa ke Wonosobo mas. Diobatkan disana, di rumah mbah Kyai, supaya anak saya bisa sembuh dan normal lagi seperti sedia kala.” pungkas Misiyem. 

10 Tahun Bekerja, BMI Hongkong Asal Nganjuk Pulang Dalam Kondisi Depresi, Tak Mau Mengenakan Pakaian

Diberdayakan oleh Blogger.
close