SUARABMI.COM - Semakin canggih fitur yang ditawarkan oleh vendor serta produsen smartphone, ternyata membawa sisi negatif yang mengakibatkan gangguan kesehatan mental atau gangguan jiwa. Dampak tersebut bisa mendera siapa saja, termasuk kalangan pekerja migran Indonesia.

Hal tersebut terbukti dari semakin bertambahnya jumlah pasien di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) dr Arif Zainudin Surakarta yang datang karena berlatar menggunakan smartphone.

“Sebetulnya mulai terasa banyak pasien kecanduan ponsel itu sejak tiga tahun lalu, tetapi belakangan ini makin marak terjadi,” kata Kepala Instalasi Kesehatan Jiwa Anak Remaja RSJD Surakarta Aliyah Himawati.

Jika sebelumnya rata-rata hanya sepekan sekali ada pasien yang masuk akibat kecanduan ponsel, ia mengatakan, saat ini hampir setiap hari ada pasien yang datang dengan kondisi tersebut.

Aliyah mengatakan bahwa penanganan pasien kecanduan ponsel dilakukan sesuai dengan gejalanya. Pada tahap awal, ia mengatakan, pasien harus lebih dulu mengakui bahwa dia mengalami kecanduan ponsel.

“Selanjutnya kami berikan obat atau disebut farmakoterapi karena kondisi kecanduan ini membuat cairan otak atau neurotransmitter tidak seimbang. Farmakoterapi ini yang paling cepat bisa menyeimbangkan,” katanya.
[ads-post]
Selain itu, ia mengatakan, pasien juga harus menjalani terapi perilaku.

“Kalau untuk pasien rawat jalan, kami lakukan evaluasi dua minggu sekali. Mereka kami beri kontrak kegiatan, seperti dalam satu hari mereka melakukan aktivitas apa saja dan kami beri aturan dalam satu hari boleh pegang ponsel maksimal hanya dua jam,” katanya.

Meskipun tidak disebutkan jumlahnya dalam tabulasi angka, pernyataan yang disampaikan setidaknya mengandung makna daruratnya situasi kesehatan mental saat ini.

Sepanjang tahun 2019, secara tidak sengaja juga menemukan setidaknya tiga pekerja migran Indonesia dimana ketiga-tiganya dari Hong Kong, mengalami gangguan jiwa yang setelah diusut-usut, juga menemukan kata kunci smartphone sebagai biang masalah awalnya.

Ketiga PMI tersebut masing-masing berasal dari Nganjuk, Karanganyar, serta Madiun.

Ada yang aneh dalam adopsi kemajuan ponsel. Setelah ponsel kian cerdas, bisa melakukan banyak hal, bukan cuma berteleponan, manusia malah bingung dan menuai masalah.

Bahkan smartphone yang di-Indonesia-kan menjadi ponsel cerdas itu belum tentu menjadikan penggunanya (bertambah) cendekia. Hoaks, hasutan, dan pesan buruk lain menyebar melalui ponsel. Dan banyak orang termakan.

Orang Gila Karena Bermain HP Makin Banyak, Jumlah Pasien Rumah Sakit Jiwa di Solo Membludak, Awas, Jangan Sampai Smartphone Membuatmu Gila ya

Diberdayakan oleh Blogger.
close