loading...

SUARABMI.COM - Arif sapaan akrab bocah yang saat ini sedang menempuh masa – masa terakhirnya di bangku Sekolah Dasar merupakan anak dari Nur Saini, seorang pekerja migran Indonesia asal Dusun Kerjo Desa Waduk Kecamatan Ngadirojo Wonogiri yang sudah sepuluh tahun lamanya tidak pernah menghubungi keluarga.

Sepuluh tahun yang lalu, persisnya di tahun 2009 awal, saat Arif baru berusia dua tahun, Nur Saini berpamitan kepada ibunya sembari menitipkan Arif agar diasuh lantaran dirinya akan kembali bekerja ke Hong Kong.

Setahun setelah Nursaini berada di Hong Kong, salah seorang temannya yang sedang cuti sempat membawakan pakaian untuk Arif dan neneknya berikut beberapa bungkus oleh oleh lain. Sebelum menitipkan barang tersebut.

“Bajunya masih tak simpan om. Itu pemberian ibu pertama kalinya selama di Hong kong dan sampai sekarang belum pernah lagi dikirimi. “ tutur Arif.

“saya ini lahir diluar nikah om katanya, jadi bapak saya siapa, saya juga tidak tahu, ibu tidak pernah mau cerita” jelas Arif.
[ads-post]
Kondisi dibawah bayang-bayang ketidak pastian Nur Saini tentu menjadi hal yang teramat berat bagi batin mbah Lendru ibunda Nur Saini sekaligus nenek dari Arif. Antara harapan mendapat perhatian, dengan kenyataan beratnya hidup di kampung halaman dengan segala keterbatasan, membuat nenek Arif berujung sakit saat teringat dan terpikirkan nasib Nur Saini.

Dan dua tahun yang lalu, saat Arif akan naik ke bangku kelas lima SD, nenek Arif pergi untuk selamanya, berpulang menghadap Illahi Rabbi.

Besar harapan Arif, dengan berita ini akan sampai di depan Nur Saini sekaligus besar pula harapan Arif agar Nursaini pulang ke Wonogiri. Arif mengharap dengan bantuan pembaca, kabar pencarian ibunya akan segera menemukan jawaban.

Arif menitipkan pesan untuk Nur Saini ibunya. Berikut petikannya :

“Ibu, kenapa ibu ke Hong Kong tidak pulang-pulang ? Arif dan nenek bingung menunggu surat dari ibu. Apa nenek atau Arif punya salah pada ibu ?

Nenek sampai sakit bu, mikir ibu tidak ada kabarnya. Setiap hari nenek kerja, mulung di TPA, hasilnya dijual untuk makan dan untuk kebutuhan Arif sekolah, beli sepatu, beli tas, beli sepeda. Ibu kenapa gak peduli kami ?

Ibu, Arif sekarang sendiri, cari makan harus kerja sendiri, rapot sekolah tidak ada yang mengambilkan karena tidak punya wali murid lagi. Nenek sudah meninggal Bu… (kalimat Arif terhenti oleh tangisnya)

Arif tidak mau sunat kalau tidak dianter dan ditunggu ibu. Ibu pulang ya, Arif kangen ibu.” 

Nenek Meninggal Dunia, Sepuluh Tahun Ibu di Hong Kong Tidak Ada Kabarnya, Anak Hasilnya Dari Hongkong Jadi Pemulung dan Tak Mau Sunat Kalau Ibunya Gak Pulang

Diberdayakan oleh Blogger.
close