loading...

SUARABMI.COM - Eni Lestari terpaksa mengurungkan niat pulang kampung ke Kediri, Jawa Timur, padahal ia sudah membayangkan bisa bertemu dan membawakan baju baru untuk sang adik Lebaran tahun ini.

Meski tiket pesawat Hong Kong-Jakarta sudah di tangan sejak Januari lalu, Eni urung pulang lantaran pembatasan pergerakan masyarakat baik di Hong Kong dan Indonesia akibat wabah virus corona (Covid-19).

Majikan Eni tak melarang dia pulang kampung. Namun, perempuan yang telah bekerja selama 20 tahun di Hong Kong itu khawatir niatnya pulang ke Indonesia berisiko dan hanya membuang waktu saja.

“Saya tidak jadi pulang karena buat apa pulang kalau sampai di Indonesia harus dikarantina dua minggu dan ketika balik ke Hong Kong juga harus dikarantina dua minggu. Habis waktu dan khawatir kenapa-kenapa jadi mending saya bekerja,” tutur Eni saat bercerita kepada CNNIndonesia pada Selasa (14/4).

Eni bersyukur selama situasi darurat Covid-19 berlangsung, majikan masih sanggup mempekerjakannya. Sebab, ia mendengar cukup banyak PHK terjadi, termasuk yang dialami teman-temannya sesama pekerja migran.

Meski begitu, Eni harus rela bekerja lembur hampir setiap hari lantaran sang majikan sekarang berada di rumah selama 24 jam setiap hari. Belum lagi muncul banyak permintaan dari majikan.

Ia menuturkan majikan jadi menuntut untuk lebih sering membersihkan ruangan dan barang-barang menggunakan cairan desinfektan yang tak jarang menimbulkan bau menyengat.

“Saat ini saya dan banyak teman-teman kerja bisa hingga 16-18 jam sehari non-stop berdiri sana-sini. Belum lagi ketika libur pada hari Minggu ada majikan yang juga kasih beberapa pekerjaan. Jadi rasanya tidak pernah libur,” kata Eni.

“Rasanya badan mau buntung belum lagi tidur hanya bisa 4-6 jam setiap hari. Di hari libur pun kami tidak segan dipakai berleha-leha di kamar karena kan ada majikan,” ujarnya menambahkan.

Eni mengatakan tak masalah jika harus bekerja lembur jika upahnya juga disesuaikan. Sayangnya, sang majikan tidak memberinya uang tambahan.

Bahkan di saat wabah seperti ini, majikan juga tidak memberi santunan apa-apa terkait kebutuhan alat kesehatan seperti masker dan sarung tangan.

“Tidak ada santunan apa pun, tok gaji saja belum lagi sekarang kan mesti beli masker yang di sini itu harganya per boks bisa Rp300-400 ribu dan makanan ekstra seperti vitamin. Saat ini kan kami bukan hanya berjuang untuk hidup, tapi juga selamat,” ujar Eni mengeluh.

Selain jam kerja yang bertambah, ancaman PHK juga sedikit banyak menghantui para TKI di Hong Kong.

Nurhalimah misalnya. Perempuan yang telah bekerja sejak 2001 lalu di Hong Kong itu mengaku was-was jika situasi tak kunjung membaik, maka pekerjaannya akan terancam.

Nurhalimah juga merasa pekerjaan semakin berat setiap hari lantaran semua keluarga majikan berada di rumah setiap hari. Otomatis, permintaan untuk memasak, bersih-bersih, hingga bepergian membeli kebutuhan lebih banyak lagi.

“Saya khawatir banyak (TKI) yang jadi depresi karena tekanan pekerjaan hingga ancaman keamanan pekerjaan karena kan beberapa majikan sudah mulai sepi pekerjaannya bahkan hingga di-PHK, meski para TKI masih bekerja dan digaji tapi kan kita tidak ada jaminan sampai kapan majikan menganggur, belum tentu Juni sudah dapat bekerja normal lagi,” ujar Nurhalimah.

Dia bercerita ada teman dekatnya yang baru saja dipecat oleh majikan lantaran sang tuan juga di PHK dari pekerjaan.

“Ada kawan saya yang kena PHK dan sekarang bingung mau pulang tapi nanti di sana bekerja apa,” kata Nurhalimah.

Pemerintah Hong Kong memang memberikan serangkaian santunan bagi para pekerja yang terkena PHK imbas wabah corona. Namun, ia mengatakan santunan itu hanya berlaku bagi warga Hong Kong dan warga asing yang memiliki izin tinggal permanen atau permanent resident.

Sementara itu, para pekerja migran di Hong Kong hanya diberi visa tinggal dan bekerja sementara sehingga tidak masuk kategori yang diberikan santunan.

Hong Kong merupakan salah satu wilayah yang turut terdampak di awal penyebaran virus corona dari China. Per Rabu (15/4), tercatat ada 1.013 kasus corona dengan empat kematian di Hong Kong.

Hong Kong menjadi salah satu wilayah pertama yang menerapkan penutupan perbatasan dengan China. Perekonomian Hong Kong diprediksi menjadi sektor yang paling terkena imbas corona.

Departemen Keuangan Hong Kong bahkan memprediksi wilayahnya akan mengalami defisit anggaran puluhan miliar dolar Amerika Serikat tahun ini hingga tahun depan. Perusahaan Hong Kong juga diperkirakan tidak akan beroperasi normal layaknya sebelum wabah corona menyerang yang dinilai akan berimbas pada pemberhentian karyawan dan pekerja.

Rasanya badan mau buntung belum lagi tidur hanya bisa 4-6 jam setiap hari. Di hari libur pun kami tidak segan dipakai berleha-leha di kamar karena kan ada majikan

Diberdayakan oleh Blogger.
close