loading...

SUARABMI.COM - Selama epidemi melanda Taiwan, banyak layanan publik yang ditangguhkan hingga membuat beban pengasuh asing di Taiwan mendapat beban yang lebih berat dari biasanya.

Kondisi yang demikian, banyak majikan yang tetap tinggal dirumah dan juga pasien yang mulai rewel yang membuat psikologi para pekerja terganggu, bekerja lebih ekstra dari biasanya.

Menurut statistik, kasus pemukulan terhadap pekerja migran di Taiwan naik signifikan selama bulan Maret dan April 2020 ini. Hal ini terjadi dengan berbagai alasan yang mereka alami seperti kasus - kasus di bawah ini misalnya.

Seorang pengasuh lansia sebut saja namanya A ta yang merawat seorang nenek yang masih bisa berjalan dengan tongkat, awalnya pengasuh dan nenek ini sering pergi kepasar, namun karena ada larangan, keduanya jadi tidak bisa pergi kepasar untuk membeli sayuran.

Anak - anak majikan melarang mereka untuk keluar, alhasil tak disangka, si nenek emosinya sering naik dan meluapkan kemarahannya kepada A ta. Bahkan A ta sampai dua kali dicakar hingga berdarah dalam dua bulan tersebut.
[ads-post]
Kejadian pertama dan kedua, A ta memberitahu majikannya namun tak direspon dan majikan hanya meminta A ta untuk bersabar dan terjadi lagi kejadian serupa yang lebih serius.

Akhirnya A ta mengadu ke departemen tenaga kerja (1955) dan ia diijinkan untuk keluar dari rumah majikannya dan mencari majikan baru.

Ditempat lain, Xiaoyi (nama samaran) juga mengalami hal yang sama dengan A ta. Dia merawat istri pensiunan berusia enam puluh tahun yang cacat di kursi roda selama empat setengah tahun, walaupun kepribadian pasien kalem dan tidak pernah melakukan kekerasan sebelumnya namun karena kondisi akhir - akhir ini,dia sering di luar kendali, marah - mara dan mempermalukan Xiao Yi, dan menamparnya ketika dia marah.

Xiaoyi yang menangis juga sempat memanggil bantuan dari serikat pekerja namun malah lebih percaya dengan pasiennya yang dianggap baik. Xiaoyi hanya pasrah pandemi ini segera berakhir agar kondisi emosional pasiennya labil kembali.

Huang Zihua, sekretaris jenderal Serikat Pekerja Perawatan Kota Taoyuan, mengatakan bahwa dalam dua atau tiga bulan terakhir, seperti A Tao, semakin banyak pengasuh asing telah dipukuli oleh pasiennya.

Chen Jingning, sekretaris jenderal Asosiasi Perawatan Keluarga Pengasuh, mengatakan bahwa pusat perawatan masyarakat di Taipei ditangguhkan sampai akhir Juni.

Sehingga hingga hari ini mereka belum bisa beraktifitas seperti layaknya belum ada pandemi. Situasi ini sering membuat emosional seseorang meningkat karena kejenuhan.

Para lansia dan keluarga mereka semua menantikan berakhirnya wabah ini. Setiap orang berharap bahwa vaksin akan dirilis sesegera mungkin, dan bahwa kelompok berisiko tinggi seperti orang tua akan diberikan prioritas untuk memberikan vaksin, dan kemudian semua kegiatan secara bertahap akan kembali normal.

Semoga saja, kita hanya bisa berdoa agar wabah ini segera berakhir dan kita semua bisa beraktifitas bebas seperti dulu lagi. Sudah hampir setengah tahun kita terkekang oleh virus ini. (r.udn)

Selama Pandemi, Banyak Pekerja Migran Taiwan Mengalami Kekerasan Dirumah Majikannya, Hal Ini Karena Batasan Keluar Rumah Hingga Membuat Banyak Majikan dan Pasien Mudah Emosi

Diberdayakan oleh Blogger.
close